Masalah dengan baterai adalah sesuatu yang sangat mengesalkan. Apalagi jika baterai tiba-tiba drop di saat yang tidak tepat.
Baterai di sini bukan hanya baterai pada smartphone, tapi juga laptop sampai kendaraan listrik, jenis baterai lithium.
Berangkat
dari hal tersebut, seorang ilmuwan dari Nanyang Technological
University (NTU), Profesor Rachid Yazami, tergerak untuk merancang
inovasi baru yang bisa menjadi kabar gembira untuk insan milenial.
Seperti diberitakan FCC Singapore,
Jumat (12/1/2018), Yazami mengumumkan dirinya berhasil merancang
pemulihan baterai yang telah berkurang kapasitas karena penggunaan
berulang.
Walaupun proses pemulihan fungsi baterai menghabiskan
waktu 10 jam, rasanya hal itu setimpal dengan keuntungan yang akan
didapat. Bayangkan saja, selama beberapa tahun kemudian Anda tak perlu
was-was akan baterai yang menjengkelkan.
Menurut Yazami, inovasi
yang dilakukannya dapat menghemat pengeluaran konsumen teknologi. Dia
berkata target terbesarnya adalah kendaraan listrik.
"Orang tidak
mengganti mobil mereka dengan yang baru sesering mengganti smartphone.
Umumnya orang akan bertahan dengan smartphone-nya sampai dua tahun, tapi
mereka ingin mobilnya dapat bertahan sampai 10 tahun," kata Yazami yang
juga kepala eksekutif perusahaan teknologi baterai KVI yang didirikan
di bawah NTU.
Pria 64 tahun asal Perancis itu berkata bahwa
inovasinya ramah lingkungan. Dia percaya, inovasinya akan membuat
produksi baterai makin sedikit dan tak perlu lagi ada baterai yang
dibuang.
Inovasinya berupa penambahan elektroda ketiga di atas dua kutub baterai lithium biasa.
Komponen ketiga akan menguras ion lithium residual di salah satu kutub yang menyebabkan penurunan daya baterai.
"Dengan demikian baterai dapat dipulihkan hingga 95 persen dari kapasitas aslinya," jelasnya.
Dia
berkata, menambahkan elektroda ketiga untuk menguras ion lithium
residual adalah gagasan yang tidak dipikirkan ilmuwan lain. Dia sendiri
telah membuat baterai prototipe dengan elektroda ketiga untuk smartphone
pada Juni 2017.
"Mungkin
produsen baterai tidak akan menyukai saya, tapi pengguna akhir seperti
pelanggan, saya yakin mereka akan menyukainya," ujar Yazami.
Artikel ini sudah pernah tayang pada Kompas.com. Baca artikel sumber.
Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan, jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran. (James Thurber)
Adsense
Monday, February 26, 2018
Kotoran Ayam Bisa Menghasilkan Tenaga Listrik
Pembangkit listrik dengan bahan bakar batubara melepaskan gas rumah
kaca ke udara, menyebabkan polusi dan memicu perubahan iklim. Tetapi
sebanyak 10 persen batubara yang digunakan di pembangkit listrik bisa
diganti oleh limbah kotoran ayam.
Di Israel, ayam bisa membantu upaya pembangkitan listrik. Hal ini disebabkan para peneliti telah berhasil mengembangkan cara untuk mengubah limbah unggas menjadi bahan bakar biomassa padat yang mudah terbakar.
"Kami memasukkannya ke dalam pressure cooker atau panci presto, jadi kami memanaskannya sampai 250 derajat C. Selama proses ini berlangsung, air bereaksi cepat, dan proses kimia yang terjadi didalam panci itu mengubah limbah organik menjadi bahan yang berperi laku seperti batu bara," kata Profesor Amit Gross.
Selain mencari pengganti bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi, penelitian ini juga mengumpulkan limbah dari peternakan ayam untuk dimanfaatkan dengan baik.
"Jadi, limbah ini akan semakin banyak di sini, dan kita perlu mencari sebuah pemecahan. Tidak banyak yang bisa kita lakukan, kecuali mengubahnya menjadi energi yang bisa menggantikan bahan bakar fosil merupakan pemecahan yang ideal," papar Vivian Mau, peneliti di Universitas Ben Gurion.
Sukses di sini bisa memicu penggunaan baru untuk jenis-jenis limbah lainnya.
"Kalau kami memanfaatkan kotoran manusia, mungkin kita bisa mengatasi masalah sanitasi di daerah pedesaan, mengubah sampah menjadi bahan yang berperilaku seperti batu bara serta bisa digunakan untuk energi atau penyuburan tanah, dan juga memperbaiki masalah sanitasi di desa-desa ini," tambah Gross.
Dalam jangka panjangnya, para peneliti berharap limbah kotoran akan membantu menurunkan emisi gas rumah kaca secara signifikan di seluruh dunia.
Artikel ini pernah tayang di voaindonesia.com. Baca artikel sumber.
Di Israel, ayam bisa membantu upaya pembangkitan listrik. Hal ini disebabkan para peneliti telah berhasil mengembangkan cara untuk mengubah limbah unggas menjadi bahan bakar biomassa padat yang mudah terbakar.
"Kami memasukkannya ke dalam pressure cooker atau panci presto, jadi kami memanaskannya sampai 250 derajat C. Selama proses ini berlangsung, air bereaksi cepat, dan proses kimia yang terjadi didalam panci itu mengubah limbah organik menjadi bahan yang berperi laku seperti batu bara," kata Profesor Amit Gross.
Selain mencari pengganti bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi, penelitian ini juga mengumpulkan limbah dari peternakan ayam untuk dimanfaatkan dengan baik.
"Jadi, limbah ini akan semakin banyak di sini, dan kita perlu mencari sebuah pemecahan. Tidak banyak yang bisa kita lakukan, kecuali mengubahnya menjadi energi yang bisa menggantikan bahan bakar fosil merupakan pemecahan yang ideal," papar Vivian Mau, peneliti di Universitas Ben Gurion.
Sukses di sini bisa memicu penggunaan baru untuk jenis-jenis limbah lainnya.
"Kalau kami memanfaatkan kotoran manusia, mungkin kita bisa mengatasi masalah sanitasi di daerah pedesaan, mengubah sampah menjadi bahan yang berperilaku seperti batu bara serta bisa digunakan untuk energi atau penyuburan tanah, dan juga memperbaiki masalah sanitasi di desa-desa ini," tambah Gross.
Dalam jangka panjangnya, para peneliti berharap limbah kotoran akan membantu menurunkan emisi gas rumah kaca secara signifikan di seluruh dunia.
Artikel ini pernah tayang di voaindonesia.com. Baca artikel sumber.
Mengapa Ada Orang yang Bermata Biru? Ini Alasannya Menurut Sains
Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa ada orang yang matanya
berwarna biru atau hijau? Mungkin Anda mengira bahwa iris mata hijau
atau biru memiliki kandungan pigmen sehingga berwarna. Namun, ternyata
anggapan ini salah.
Seperti yang ditulis oleh Paul Van Slembrouck untuk Medium, warna pada mata sebenarnya bersifat struktural dan melibatkan beberapa rumus fisika yang cukup menarik.
Iris sendiri terdiri dari dua lapisan. Epitel adalah lapisan di belakang dan stroma merupakan lapisan di depan.
Epitel terdiri dari dua sel tebal yang mengandung pigmen warna coklat dan hitam. Jika Anda perhatikan mata orang lain, terkadang Anda dapat melihat bintik kecil dan senar hitam. Nah, itu sebenarnya epitel yang tampak.
Sebaliknya, stroma merupakan serat kolagen yang tidak berwarna. Kadang, stroma mengandung pigmen melanin coklat, tetapi ia juga bisa benar-benar bersih dan tidak mengandung melanin.
Bagi mereka yang memiliki warna mata hijau, saat cahaya masuk ke mata dan diserap pigmen, partikel di stroma akan menyebarkan cahaya sebagai hasil dari efek Tyndall yang menciptakan rona biru. Hal ini mirip seperti hamburan Rayleigh yang membuat langit berwarna biru.
Saat dikombinasikan dengan melanin berwarna coklat, mata kemudian akan tampak hijau.
Sementara itu, mata berwarna biru adalah yang paling menarik. Sebab, seluruh warnanya struktural.
Orang dengan mata biru memiliki stroma yang sama sekali tak berwarna dan tanpa pigmen. Artinya, dia juga memiliki kandungan deposit kolagen berlebih.
"Ini berarti semua cahaya yang masuk itu tersebar kembali, dan akibat dari efek Tyndall, menciptakan warna biru," tulis Slembrouck seperti dilansir dari Science Alert, Selasa, (2/1/2018).
Menariknya, mata berwarna biru sebenarnya tidak memiliki warna tetap. Semuanya tergantung pada jumlah cahaya yang tersedia saat mereka yang memiliki warna biru melihat.
Pewarnaan struktural seperti ini juga terjadi pada kupu-kupu, daging sapi, buah beri, dan masih banyak lagi.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Seperti yang ditulis oleh Paul Van Slembrouck untuk Medium, warna pada mata sebenarnya bersifat struktural dan melibatkan beberapa rumus fisika yang cukup menarik.
Iris sendiri terdiri dari dua lapisan. Epitel adalah lapisan di belakang dan stroma merupakan lapisan di depan.
Epitel terdiri dari dua sel tebal yang mengandung pigmen warna coklat dan hitam. Jika Anda perhatikan mata orang lain, terkadang Anda dapat melihat bintik kecil dan senar hitam. Nah, itu sebenarnya epitel yang tampak.
Sebaliknya, stroma merupakan serat kolagen yang tidak berwarna. Kadang, stroma mengandung pigmen melanin coklat, tetapi ia juga bisa benar-benar bersih dan tidak mengandung melanin.
Bagi mereka yang memiliki warna mata hijau, saat cahaya masuk ke mata dan diserap pigmen, partikel di stroma akan menyebarkan cahaya sebagai hasil dari efek Tyndall yang menciptakan rona biru. Hal ini mirip seperti hamburan Rayleigh yang membuat langit berwarna biru.
Saat dikombinasikan dengan melanin berwarna coklat, mata kemudian akan tampak hijau.
Sementara itu, mata berwarna biru adalah yang paling menarik. Sebab, seluruh warnanya struktural.
Orang dengan mata biru memiliki stroma yang sama sekali tak berwarna dan tanpa pigmen. Artinya, dia juga memiliki kandungan deposit kolagen berlebih.
"Ini berarti semua cahaya yang masuk itu tersebar kembali, dan akibat dari efek Tyndall, menciptakan warna biru," tulis Slembrouck seperti dilansir dari Science Alert, Selasa, (2/1/2018).
Menariknya, mata berwarna biru sebenarnya tidak memiliki warna tetap. Semuanya tergantung pada jumlah cahaya yang tersedia saat mereka yang memiliki warna biru melihat.
Pewarnaan struktural seperti ini juga terjadi pada kupu-kupu, daging sapi, buah beri, dan masih banyak lagi.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Otak Saling Terhubung Seperti WiFi, Itulah Alasan Kita Punya Firasat
Beberapa penelitian telah mengungkap bahwa kita dapat terhubung
dengan pikiran orang lain saat berbincang. Otak memiliki peran penting
dalam hal ini.
Profesor Digby Tatum, ahli psikoterapis klinis di University of Sheffield, melakukan penelitian tentang kerja otak dan bagaimana orang berkomunikasi.
Tatum berkata bahwa otak manusia memiliki semacam wireless fidelityatau Wi-fi, yang terus mengumpulkan informasi tentang orang lain saat kita melihat mereka. Hal inilah yang kemudian melahirkan intuisi atau firasat.
Firasat menurut Psychologytoday, Rabu (31/8/2011) adalah proses yang memberi kita kemampuan untuk mengetahui sesuatu secara langsung tanpa penalaran analitik, menjembatani kesenjangan antara bagian sadar dan tidak sadar dari pikiran kita, dan juga antara naluri dan nalar.
Tatum yakin bahwa faktor bahasa saat berbincang hanya memainkan sedikit peran dalam komunikasi.
Misalnya saja, seorang pemain poker profesional. Ia mampu menangkap "pesan" dari lawannya hanya dengan melihat gerakan kecil atau tanda-tanda visual lainnya.
Menurutnya, manusia memiliki kemampuan menangkap pesan di alam bawah sadar. Hal tersebut ditulis Tatum dalam bukunya berjudul The Interbrain yang diterbitkan oleh Jessica Kingsley Publisher.
"Kita dapat mengetahui secara langsung tentang emosi orang lain dan apa yang mereka perhatikan. Hal ini didasarkan pada hubungan langsung antara otak kita dan orang lain. Saya menyebutnya interbrain," kata Tatum di Telegraph, Sabtu (6/1/2018).
Tatum menjelaskan konsep interbrain dengan analogi saat ratusan hingga ribuan manusia berkumpul untuk menonton pertandingan bola, konser musik, atau ritual agama.
"Berada di kerumunan bisa membuat kita sejenak larut bersama untuk mengalami bagaimana rasanya melampaui cara pandang tentang konsep waktu, tempat, dan kapasitas kita dalam sejenak," katanya.
Namun, kerja otak ini tidak akan berfungsi saat manusia berkomunikasi dengan orang lain lewat telepon video. Ini justru akan menganggu proses koneksi antar otak dan itu berbahaya.
"Perasaan emosional akan menular secepat kecepatan cahaya, bukan kecepatan transmisi elektronik. Tatap muka secara visual akan disertai faktor suara, isyarat, bau keringat, sentuhan, dan koneksi," ujarnya.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Profesor Digby Tatum, ahli psikoterapis klinis di University of Sheffield, melakukan penelitian tentang kerja otak dan bagaimana orang berkomunikasi.
Tatum berkata bahwa otak manusia memiliki semacam wireless fidelityatau Wi-fi, yang terus mengumpulkan informasi tentang orang lain saat kita melihat mereka. Hal inilah yang kemudian melahirkan intuisi atau firasat.
Firasat menurut Psychologytoday, Rabu (31/8/2011) adalah proses yang memberi kita kemampuan untuk mengetahui sesuatu secara langsung tanpa penalaran analitik, menjembatani kesenjangan antara bagian sadar dan tidak sadar dari pikiran kita, dan juga antara naluri dan nalar.
Tatum yakin bahwa faktor bahasa saat berbincang hanya memainkan sedikit peran dalam komunikasi.
Misalnya saja, seorang pemain poker profesional. Ia mampu menangkap "pesan" dari lawannya hanya dengan melihat gerakan kecil atau tanda-tanda visual lainnya.
Menurutnya, manusia memiliki kemampuan menangkap pesan di alam bawah sadar. Hal tersebut ditulis Tatum dalam bukunya berjudul The Interbrain yang diterbitkan oleh Jessica Kingsley Publisher.
"Kita dapat mengetahui secara langsung tentang emosi orang lain dan apa yang mereka perhatikan. Hal ini didasarkan pada hubungan langsung antara otak kita dan orang lain. Saya menyebutnya interbrain," kata Tatum di Telegraph, Sabtu (6/1/2018).
Tatum menjelaskan konsep interbrain dengan analogi saat ratusan hingga ribuan manusia berkumpul untuk menonton pertandingan bola, konser musik, atau ritual agama.
"Berada di kerumunan bisa membuat kita sejenak larut bersama untuk mengalami bagaimana rasanya melampaui cara pandang tentang konsep waktu, tempat, dan kapasitas kita dalam sejenak," katanya.
Namun, kerja otak ini tidak akan berfungsi saat manusia berkomunikasi dengan orang lain lewat telepon video. Ini justru akan menganggu proses koneksi antar otak dan itu berbahaya.
"Perasaan emosional akan menular secepat kecepatan cahaya, bukan kecepatan transmisi elektronik. Tatap muka secara visual akan disertai faktor suara, isyarat, bau keringat, sentuhan, dan koneksi," ujarnya.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Peneliti Ciptakan Alat Penerjemah Bahasa Hewan
Kemampuan untuk berkomunikasi dengan hewan peliharaan tampaknya tidak akan lagi sekadar impian atau plot cerita fiksi.
Sebab pada 2017, sejumlah peneliti sudah mulai mempelajari bahasa hewan, dan diperkirakan dalam sepuluh tahun ke depan akan hadir penerjemah hewan.
Con Slobodchikoff adalah seorang emeritus dari Departemen Ilmu Biologi Northern Arizona University. Saat ini, dia sedang mempelajari algoritma yang bisa menerjemahkan suara dan gerakan tubuh hewan ke dalam bahasa Inggris.
Sebelumnya, ia terlebih dahulu menciptakan alat canggih untuk memahami bahasa anjing padang rumput. Ia sudah puluhan tahun menghabiskan waktu untuk mempelajari perilaku sosial dan komunikasi anjing padang rumput.
Sebagai informasi, anjing padang rumput bukanlah bukan jenis anjing, tetapi termasuk binatang pengerat seperti marmut.
Hasilnya, dia menemukan bahwa hewan pengerat asal Amerika Utara itu dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang canggih seperti menggunakan decitan dan gonggongan yang berbeda.
Slobodchikoff berkata, anjing padang rumput menggunakan suara yang berbeda saat mereka menginformasikan adanya predator tertentu. Setiap suara menggambarkan jenis dan ukuran predator berbeda.
"Bahasa mereka sangat canggih. Mereka juga bisa mengidentifikasi warna pakaian orang," kata Slobodchikoff dikutip dari IFL Science, Senin (15/1/2018).
Kini, Slobodchikoff sudah mengembangkan alat yang dapat mengubah cicitan dan gonggongan anjing padang rumput menjadi bahasa yang dapat dipahami manusia.
Tak berhenti hanya pada anjing padang rumput, dia juga akan segera membuat alat yang sama untuk mengerti bahasa yang digunakan hewan peliharaan rumah.
"Saya pikir jika saya bisa melakukannya dengan anjing padang rumput, saya juga pasti bisa melakukannya untuk anjing dan kucing," katanya.
Hal yang makin membuatnya optimis adalah karena penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anjing cukup pandai dalam memahami dan memanipulasi pemiliknya. Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa anjing dapat memahami bahasa manusia dan hal itu ditunjukkan dengan gerakan tertentu.
Menurut Slobodchikoff, jika dia membuat alat komunikasi yang dapat mengartikan bahasa hewan, maka komunikasi antara manusia dan hewan akan jauh lebih mudah.
Untuk mewujudkannya, perusahaan Slobodchikoff yang bernama Zoolingua sudah mulai mengumpulkan ribuan rekaman komunikasi anjing yang dilakukan dengan bahasa tubuh atau suara.
Nantinya, hal ini akan dimasukkan ke dalam algoritma yang dapat menerjemahkan ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan suara hewan peliharaan ke dalam bahasa Inggris.
Namun, Slobodchikoff tidak ingin asal dalam mengartikan setiap gerak dan suara yang dikeluarkan anjing.
Dia akan menggunakan penelitian ilmiah dengan menggunakan percobaan terperinci untuk mengetahui makna di balik gerakan dan suara binatang.
"Hasil akhirnya nanti adalah penerjemah hewan peliharaan yang secara harfiah dapat memecahkan maksud anjing dan kucing. Seperti misalnya, saya ingin makan atau saya ingin jalan-jalan," harapnya.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Sebab pada 2017, sejumlah peneliti sudah mulai mempelajari bahasa hewan, dan diperkirakan dalam sepuluh tahun ke depan akan hadir penerjemah hewan.
Con Slobodchikoff adalah seorang emeritus dari Departemen Ilmu Biologi Northern Arizona University. Saat ini, dia sedang mempelajari algoritma yang bisa menerjemahkan suara dan gerakan tubuh hewan ke dalam bahasa Inggris.
Sebelumnya, ia terlebih dahulu menciptakan alat canggih untuk memahami bahasa anjing padang rumput. Ia sudah puluhan tahun menghabiskan waktu untuk mempelajari perilaku sosial dan komunikasi anjing padang rumput.
Sebagai informasi, anjing padang rumput bukanlah bukan jenis anjing, tetapi termasuk binatang pengerat seperti marmut.
Hasilnya, dia menemukan bahwa hewan pengerat asal Amerika Utara itu dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang canggih seperti menggunakan decitan dan gonggongan yang berbeda.
Slobodchikoff berkata, anjing padang rumput menggunakan suara yang berbeda saat mereka menginformasikan adanya predator tertentu. Setiap suara menggambarkan jenis dan ukuran predator berbeda.
"Bahasa mereka sangat canggih. Mereka juga bisa mengidentifikasi warna pakaian orang," kata Slobodchikoff dikutip dari IFL Science, Senin (15/1/2018).
Kini, Slobodchikoff sudah mengembangkan alat yang dapat mengubah cicitan dan gonggongan anjing padang rumput menjadi bahasa yang dapat dipahami manusia.
Tak berhenti hanya pada anjing padang rumput, dia juga akan segera membuat alat yang sama untuk mengerti bahasa yang digunakan hewan peliharaan rumah.
"Saya pikir jika saya bisa melakukannya dengan anjing padang rumput, saya juga pasti bisa melakukannya untuk anjing dan kucing," katanya.
Hal yang makin membuatnya optimis adalah karena penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anjing cukup pandai dalam memahami dan memanipulasi pemiliknya. Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa anjing dapat memahami bahasa manusia dan hal itu ditunjukkan dengan gerakan tertentu.
Menurut Slobodchikoff, jika dia membuat alat komunikasi yang dapat mengartikan bahasa hewan, maka komunikasi antara manusia dan hewan akan jauh lebih mudah.
Untuk mewujudkannya, perusahaan Slobodchikoff yang bernama Zoolingua sudah mulai mengumpulkan ribuan rekaman komunikasi anjing yang dilakukan dengan bahasa tubuh atau suara.
Nantinya, hal ini akan dimasukkan ke dalam algoritma yang dapat menerjemahkan ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan suara hewan peliharaan ke dalam bahasa Inggris.
Namun, Slobodchikoff tidak ingin asal dalam mengartikan setiap gerak dan suara yang dikeluarkan anjing.
Dia akan menggunakan penelitian ilmiah dengan menggunakan percobaan terperinci untuk mengetahui makna di balik gerakan dan suara binatang.
"Hasil akhirnya nanti adalah penerjemah hewan peliharaan yang secara harfiah dapat memecahkan maksud anjing dan kucing. Seperti misalnya, saya ingin makan atau saya ingin jalan-jalan," harapnya.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Di Masa Depan, Teknologi VR Memungkinkan Kita Jelajahi Sel Kanker
ayangkan jika kita bisa berjalan-jalan di dalam replika virtual sel tubuh kita sendiri.
Hal seperti ini sudah menjadi kenyataan, berkat teknologi inovatif yang dikembangkan di University of New South Wales.
Associate Profesor, John McGhee menjalankan Laboratorium Estetika Visualisasi 3D - salah satu situs di mana teknologi ini sedang dikembangkan.
"Kami mengambil data dari scan PET pasien untuk memvisualisasikan data tersebut," katanya.
Dengan menggunakan teknologi game 3D, mereka mengubah data menjadi lansekap realitas virtual (VR) interaktif.
"Anda tidak lagi hanya melihat sesuatu di layar, tapi anda bisa melihat sesuatu dengan cara yang benar-benar immersive dengan headset, jadi sepertinya Anda berada di dalam sel berjalan-jalan," katanya.
"Ini akan membantu proses penemuan ilmiah, karena kita dapat melihat bagaimana sel berperilaku dengan cara-cara yang sebelumnya tidak bisa kita miliki.”
Dan di masa depan, pasien kanker bisa melihat versi virtual dirinya sendiri, dan melacak di mana perawatan obat berakhir di tubuh mereka.
Profesor Maria Kavallaris dari Institut Kanker Anak-anak adalah bagian dari proyek tersebut.
"Anda bisa membayangkan bahwa anda mungkin pergi ke dokter dan dibawa melakukan perjalanan di tubuh Anda, dengan dapat memvisualisasikan di mana letak penyakit ini dan pilihan pengobatan potensial apa [yang dapat dilakukan]," katanya.
"Ini akan memberdayakan pasien untuk membuat keputusan pengobatan mereka."
Profesor McGhee mengatakan bahwa pasien kemudian dapat menunjukkan kepada keluarga dan teman mereka apa yang terjadi pada mereka.
"Saya pikir ini adalah saat yang sangat menyenangkan," katanya.
"Ini seperti perjalanan lapangan virtual"
Teknologi ini memungkinkan para ilmuwan untuk berkolaborasi satu sama lain dengan cara yang sama sekali baru.
Para ilmuwan dapat bekerja sama dengan rekan-rekan di luar negeri mengenai terobosan medis, mengeksplorasi dan mengomentari lansekap virtual yang sama pada saat bersamaan.
"Pendekatan ini hampir seperti perjalanan lapangan virtual," kata Profesor McGhee.
Profesor Maria Kavallaris mengaku kagum saat dia mencoba teknologi kenyataan maya (VR).
"Pertama kali saya memakai kacamata VR, saya benar-benar terpesona, hampir seperti pengalaman sejenis fiksi ilmiah," katanya.
Penelitian ini merupakan kolaborasi dengan Pusat Keunggulan ARC dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Konvergensi Bio-Nano.
Para ahli mengatakan teknologi ini memiliki aplikasi penting untuk melatih ilmuwan masa depan.
Teknologi ini sudah diujicobakan pada mahasiswa Ilmu Farmasi Universitas Monash yang belajar tentang kanker, untuk melihat apakah teknologi ini dapat meningkatkan pemahaman mereka.
"Kami sekarang mendapatkan data yang ditunjukkan dengan meletakkan headset dan berjalan dalam Virtual reality (VR), kami telah melihat peningkatan yang signifikan dalam hasil ujian mereka, dibandingkan dengan media lain yang menggunakan media tradisional," kata Profesor McGhee.
Artikel ini telah tayang di Australiaplus.com. Baca artikel sumber.
Hal seperti ini sudah menjadi kenyataan, berkat teknologi inovatif yang dikembangkan di University of New South Wales.
Associate Profesor, John McGhee menjalankan Laboratorium Estetika Visualisasi 3D - salah satu situs di mana teknologi ini sedang dikembangkan.
"Kami mengambil data dari scan PET pasien untuk memvisualisasikan data tersebut," katanya.
Dengan menggunakan teknologi game 3D, mereka mengubah data menjadi lansekap realitas virtual (VR) interaktif.
"Anda tidak lagi hanya melihat sesuatu di layar, tapi anda bisa melihat sesuatu dengan cara yang benar-benar immersive dengan headset, jadi sepertinya Anda berada di dalam sel berjalan-jalan," katanya.
"Ini akan membantu proses penemuan ilmiah, karena kita dapat melihat bagaimana sel berperilaku dengan cara-cara yang sebelumnya tidak bisa kita miliki.”
Dan di masa depan, pasien kanker bisa melihat versi virtual dirinya sendiri, dan melacak di mana perawatan obat berakhir di tubuh mereka.
Profesor Maria Kavallaris dari Institut Kanker Anak-anak adalah bagian dari proyek tersebut.
"Anda bisa membayangkan bahwa anda mungkin pergi ke dokter dan dibawa melakukan perjalanan di tubuh Anda, dengan dapat memvisualisasikan di mana letak penyakit ini dan pilihan pengobatan potensial apa [yang dapat dilakukan]," katanya.
"Ini akan memberdayakan pasien untuk membuat keputusan pengobatan mereka."
Profesor McGhee mengatakan bahwa pasien kemudian dapat menunjukkan kepada keluarga dan teman mereka apa yang terjadi pada mereka.
"Saya pikir ini adalah saat yang sangat menyenangkan," katanya.
"Ini seperti perjalanan lapangan virtual"
Teknologi ini memungkinkan para ilmuwan untuk berkolaborasi satu sama lain dengan cara yang sama sekali baru.
Para ilmuwan dapat bekerja sama dengan rekan-rekan di luar negeri mengenai terobosan medis, mengeksplorasi dan mengomentari lansekap virtual yang sama pada saat bersamaan.
"Pendekatan ini hampir seperti perjalanan lapangan virtual," kata Profesor McGhee.
Profesor Maria Kavallaris mengaku kagum saat dia mencoba teknologi kenyataan maya (VR).
"Pertama kali saya memakai kacamata VR, saya benar-benar terpesona, hampir seperti pengalaman sejenis fiksi ilmiah," katanya.
Penelitian ini merupakan kolaborasi dengan Pusat Keunggulan ARC dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Konvergensi Bio-Nano.
Para ahli mengatakan teknologi ini memiliki aplikasi penting untuk melatih ilmuwan masa depan.
Teknologi ini sudah diujicobakan pada mahasiswa Ilmu Farmasi Universitas Monash yang belajar tentang kanker, untuk melihat apakah teknologi ini dapat meningkatkan pemahaman mereka.
"Kami sekarang mendapatkan data yang ditunjukkan dengan meletakkan headset dan berjalan dalam Virtual reality (VR), kami telah melihat peningkatan yang signifikan dalam hasil ujian mereka, dibandingkan dengan media lain yang menggunakan media tradisional," kata Profesor McGhee.
Artikel ini telah tayang di Australiaplus.com. Baca artikel sumber.
Friday, February 23, 2018
Kayu Super Lebih Kuat Dari Baja Ini Mampu Menahan Peluru
Pernahkah Anda membayangkan ada kayu yang sekuat baja? Rasanya hal itu sedikit mustahil, bukan?
Namun para peneliti di Amerika Serikat mengubah hal mustahil tersebut menjadi nyata. Mereka telah mengembangkan cara sederhana untuk membuat kayu sekuat baja atau bahkan perpaduan titanium.
Bahkan, dalam uji coba, kayu super tersebut bisa menghentikan peluru yang ditembakkan ke arahnya. Hal ini membuka peluang untuk penerapan kayu pada bangunan, mobil, atau bahkan pesawat.
"Cara baru ini membuat kayu 12 kali lebih kuat dan 10 kali lebih keras dari aslinya," ungkap Liangbing Hu, profesor asosiasi di University of Maryland, AS dikutip dari Xinhua Net, Kamis (08/02/2018).
"Ini bisa menjadi pesaing atau bahkan perpaduan titanium, ini sangat kuat dan tahan lama. Jika dibandingkan dengan serat karbon, harga kayu ini lebih murah," imbuh pria yang jadi pimpinan penelitian ini.
Dalam laporan di jurnal Nature, disebutkan bahwa proses pembuatan kayu agar sekuat baja ini dimulai dengan melepas lignin atau bagian dari kayu yang membuatnya kaku dan berwarna coklat. Dilansir dari Scientific American, Rabu (07/02/2018), pelepasan lignin ini dilakukan dengan cara mendidihkan kayu dalam larutan natrium hidroksida (NaOH) dan natrium sulfit (Na2SO3).
Selanjutnya, ditekan/dikompres pada suhu 100 derajat celcius selama sekitar satu hari. Proses ini akan membuat kayu 5 kali lebih tipis dari ukuran asli.
Dengan cara ini cacat pada kayu seperti lubang akan hancur, kata para peneliti. Proses perlakuan ini juga sedikit lebih lama dibanding dengan melapisi kayu dengan cat.
"(Dengan cara ini) serabut kayu ditekan sedemikian erat sehingga bisa membentuk ikatan hidrogen yang kuat, seperti kerumunan orang yang tidak dapat bergerak dan berpegangan tangan," kata para peneliti.
Profesor Teng Li dari University of Maryland yang juga terlibat dalam penelitian ini menyebut bahwa ia mengukur sifat mekanik kayu yang padat. Hasilnya, kayu tersebut dianggap sekuat baja tapi dengan bobot 6 kali lebih ringan.
"Dibutuhkan 10 kali energi lebih banyak untuk mematahkannya jika dibanding kayu alami. Benda ini bahkan bisa ditekuk pada awal proses ini dilakukan," ujar Li.
Tim juga menguji materi tersebut dengan menembakkan peluru ke arah benda itu.
Jika hal tersebut dilakukan pada kayu alami, tentu akan membuatnya berlubang. Sebaliknya, benda ini justru menghentikan proyektil peluru yang ditembakkan kearahnya.
"Laporan ini memberikan gambaran yang sangat menjanjikan untuk merancang bahan struktural yang berkekuatan tinggi namun ringan, dengan potensi yang luar biasa untuk diaplikasikan pada tujuan yang membutuhkan kekuatan besar dan ketahan tinggi," kata Huajian Gao, profesor di Brown University, AS yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
"Sangat menarik untuk dicatat bahwa cara ini dapat digunakan pada semua jenis kayu dan bisa diterapkan dengan mudah," sambungnya.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Namun para peneliti di Amerika Serikat mengubah hal mustahil tersebut menjadi nyata. Mereka telah mengembangkan cara sederhana untuk membuat kayu sekuat baja atau bahkan perpaduan titanium.
Bahkan, dalam uji coba, kayu super tersebut bisa menghentikan peluru yang ditembakkan ke arahnya. Hal ini membuka peluang untuk penerapan kayu pada bangunan, mobil, atau bahkan pesawat.
"Cara baru ini membuat kayu 12 kali lebih kuat dan 10 kali lebih keras dari aslinya," ungkap Liangbing Hu, profesor asosiasi di University of Maryland, AS dikutip dari Xinhua Net, Kamis (08/02/2018).
"Ini bisa menjadi pesaing atau bahkan perpaduan titanium, ini sangat kuat dan tahan lama. Jika dibandingkan dengan serat karbon, harga kayu ini lebih murah," imbuh pria yang jadi pimpinan penelitian ini.
Dalam laporan di jurnal Nature, disebutkan bahwa proses pembuatan kayu agar sekuat baja ini dimulai dengan melepas lignin atau bagian dari kayu yang membuatnya kaku dan berwarna coklat. Dilansir dari Scientific American, Rabu (07/02/2018), pelepasan lignin ini dilakukan dengan cara mendidihkan kayu dalam larutan natrium hidroksida (NaOH) dan natrium sulfit (Na2SO3).
Selanjutnya, ditekan/dikompres pada suhu 100 derajat celcius selama sekitar satu hari. Proses ini akan membuat kayu 5 kali lebih tipis dari ukuran asli.
Dengan cara ini cacat pada kayu seperti lubang akan hancur, kata para peneliti. Proses perlakuan ini juga sedikit lebih lama dibanding dengan melapisi kayu dengan cat.
"(Dengan cara ini) serabut kayu ditekan sedemikian erat sehingga bisa membentuk ikatan hidrogen yang kuat, seperti kerumunan orang yang tidak dapat bergerak dan berpegangan tangan," kata para peneliti.
Profesor Teng Li dari University of Maryland yang juga terlibat dalam penelitian ini menyebut bahwa ia mengukur sifat mekanik kayu yang padat. Hasilnya, kayu tersebut dianggap sekuat baja tapi dengan bobot 6 kali lebih ringan.
"Dibutuhkan 10 kali energi lebih banyak untuk mematahkannya jika dibanding kayu alami. Benda ini bahkan bisa ditekuk pada awal proses ini dilakukan," ujar Li.
Tim juga menguji materi tersebut dengan menembakkan peluru ke arah benda itu.
Jika hal tersebut dilakukan pada kayu alami, tentu akan membuatnya berlubang. Sebaliknya, benda ini justru menghentikan proyektil peluru yang ditembakkan kearahnya.
"Laporan ini memberikan gambaran yang sangat menjanjikan untuk merancang bahan struktural yang berkekuatan tinggi namun ringan, dengan potensi yang luar biasa untuk diaplikasikan pada tujuan yang membutuhkan kekuatan besar dan ketahan tinggi," kata Huajian Gao, profesor di Brown University, AS yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
"Sangat menarik untuk dicatat bahwa cara ini dapat digunakan pada semua jenis kayu dan bisa diterapkan dengan mudah," sambungnya.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Mengapa Beberapa Orang Bisa Lebih kreatif dari yang Lain?
Kreativitas sering kali diartikan sebagai kemampuan untuk memikirkan
gagasan baru dan berguna. Layaknya kecerdasan, kreativitas dianggap
sebagai sifat yang dimiliki semua orang, tidak terbatas pada Picasso dan
Steve Jobs saja.
Kreativitas bukan sekadar kemampuan menggambar atau merancang produk. Setiap orang perlu berpikir kreatif dalam kehidupan sehari-hari, entah itu mencari tahu bagaimana cara memasak dengan sisa makanan semalam, atau membuat kostum Halloween dari pakaian yang ada di lemari.
Tugas kreatif bermacam-macam, mulai dari apa yang disebut peneliti kreativitas “k-kecil”—membuat situs web, membuat kerajinan tangan untuk hadiah ulang tahun, atau menceritakan sebuah lelucon lucu—hingga kreativitas “K-Besar”: menulis pidato, menggubah puisi, atau merancang percobaan ilmiah.
Peneliti psikologi dan neurosains sudah mulai mengenali proses berpikir dan wilayah otak yang terlibat dalam kreativitas. Bukti terbaru menunjukkan, kreativitas melibatkan sebuah interaksi rumit antara berpikir spontan dan terkendali.
Dengan kata lain, kemampuan mengulik gagasan secara spontan, sekaligus mengevaluasinya dengan teliti untuk menentukan apakah gagasan itu betul-betul akan berhasil.
Meski demikian, jawaban dari pertanyaan “mengapa beberapa orang bisa lebih kreatif dari yang lain?” tetap sulit dipahami.
Dalam sebuah studi baru, saya bersama kolega meneliti apakah kemampuan berpikir kreatif seseorang bisa dijelaskan, sebagian, oleh koneksi di antara tiga jaringan otak.
Memetakan otak saat berpikir kreatif
Dalam studi ini, kami meminta 163 peserta menyelesaikan tes klasik “berpikir divergen” yang disebut tugas-kegunaan-lain. Kami meminta mereka memikirkan kegunaan baru dan di luar kebiasaan dari beberapa benda. Tepat setelah menyelesaikan tes, mereka menjalani pemindaian fMRI, yang mengukur aliran darah ke bagian-bagian otak.
Tugas itu menilai kemampuan orang untuk menyimpangkan kegunaan umum dari suatu benda. Sebagai contoh, kami menunjukkan peserta beberapa benda seperti pembungkus permen karet atau kaus kaki, kemudian meminta mereka memikirkan cara kreatif dalam menggunakannya.
Beberapa gagasan lebih kreatif daripada yang lain. Seorang peserta mengatakan kaus kaki bisa digunakan utuk menghangatkan kaki (kegunaan umum) sementara peserta lain mengatakan kaus kaki bisa dipakai sebagai sistem penyaring air.
Penting dicatat, kami menemukan bahwa orang-orang yang mahir dalam tes ini cenderung punya lebih banyak hobi dan prestasi kreatif. Ini senada dengan studi terdahulu yang menunjukkan bahwa tugas itu mengukur kemampuan berpikir kreatif secara umum.
Setelah para peserta menyelesaikan tugas berpikir kreatif ini di fMRI, kami menilai konektivitas fungsional di antara semua wilayah otak—berapa banyak aktivitas di satu wilayah berkaitan dengan aktivitas di wilayah lain.
Kami juga membuat peringkat untuk keaslian gagasan mereka: Gagasan yang umum (menggunakan kaus kaki untuk menghangatkan kaki) mendapat nilai lebih rendah, sedangkan gagasan tak umum mendapat nilai lebih tinggi (menggunakan kaus kaki sebagai sistem penyaringan air).
Kemudian kami menghubungkan nilai kreativitas tiap orang dengan semua kemungkinan koneksi otak (sekitar 35.000), dan menghilangkan koneksi yang, menurut analisis kami, tidak berkorelasi dengan nilai kreativitas.
Koneksi yang tersisa merupakan jaringan “kreatif-tinggi”, satu set koneksi yang sangat relevan untuk memunculkan gagasan orisinal.
Dua wilayah menunjukkan lobus otak yang terhubung dalam jaringan kreatif tinggi.Author provided
Setelah mendefinisikan jaringannya, kami ingin melihat apakah seseorang dengan koneksi yang lebih kuat pada jaringan kreatif-tinggi ini akan memiliki nilai yang baik dalam tes. Jadi kami mengukur kekuatan koneksi seseorang pada jaringan ini kemudian menggunakan model prediktif untuk menguji apakah kami dapat memperkirakan nilai kreativitas seseorang.
Model tersebut mengungkapkan korelasi yang signifikan antara nilai prediksi dan nilai kreativitas yang diobservasi. Dengan kata lain, kita bisa mengestimasi seberapa kreatif gagasan seseorang berdasarkan kekuatan koneksi mereka pada jaringan ini.
Kami selanjutnya menguji apakah kita bisa memprediksi kemampuan berpikir kreatif pada tiga sampel baru dari partisipan yang data otaknya tidak digunakan untuk membangun model jaringan. Dari semua sampel, kami menemukan bahwa kami bisa memprediksi—meskipun sederhana—kemampuan kreatif seseorang berdasarkan kekuatan koneksi mereka pada jaringan yang sama ini.
Secara keseluruhan, orang dengan koneksi yang lebih kuat memiliki gagasan yang lebih baik.
Apa yang terjadi pada jaringan ‘kreatif-tinggi’
Kami menemukan bahwa wilayah otak dalam jaringan “kreatif-tinggi” dimiliki oleh tiga sistem otak spesifik: jaringan default, jaringan salience dan jaringan eksekutif.
Jaringan default adalah area otak yang menjadi aktif ketika orang berpikir spontan, seperti pikiran mengembara, bermimpi di siang bolong, dan berkhayal. Jaringan ini mungkin memainkan peranan kunci dalam menghasilkan atau mengulik gagasan—memikirkan beberapa kemungkinan solusi untuk satu masalah.
Jaringan kontrol eksekutif adalah area yang aktif ketika seseorang perlu fokus atau mengontrol proses pikiran mereka. Jaringan ini mungkin berperan kunci dalam mengevaluasi gagasan atau menentukan apakah gagasan yang sudah diulik akan benar-benar berhasil, dan memodifikasinya agar sesuai dengan tujuan kreatif.
Jaringan salience adalah area yang bekerja sebagai mekanisme yang mengalihkan antara jaringan default dan eksekutif. Jaringan ini mungkin memainkan peran kunci dalam penggantian antara menggagas ide dan mengevaluasinya.
Sebuah fitur menarik dari tiga jaringan ini yakni, mereka umumnya tidak diaktivasi di saat bersamaan. Contohnya, ketika jaringan eksekutif diaktivasi, jaringan default biasanya tidak aktif. Hasil penelitian kami menemukan, orang kreatif memiliki kemampuan lebih baik untuk mengaktifkan jaringan-jaringan otak yang biasanya bekerja secara terpisah.
Baca juga: Delapan Ide Kreatif untuk Foto dengan Smartphone
Temuan kami mengindikasikan bahwa otak kreatif dihubungkan dengan cara berbeda, dan bahwa orang kreatif lebih mampu melibatkan sistem otak yang biasanya tidak bekerja bersama. Yang menarik, hasilnya konsisten dengan studi fMRI terbaru mengenai seniman profesional, termasuk musisi jazz yang melakukan improvisasi melodi, penyair yang menulis baris puisi baru, dan seniman visual yang membuat sketsa gagasan untuk sampul buku.
Diperlukan riset di masa mendatang untuk menentukan apakah jaringan-jaringan ini bisa ditempa ataukah relatif tetap. Misalnya, apakah mengikuti kelas menggambar menghasilkan konektivitas yang lebih hebat dalam jaringan otak ini? Mungkinkan mendorong kemampuan berpikir kreatif umum dengan memodifikasi koneksi jaringan?
Untuk
saat ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut belum terjawab. Sebagai
peneliti, kita hanya perlu melibatkan jaringan kreatif kita sendiri
untuk mencari tahu bagaimana menjawabnya.
Roger Beaty, Postdoctoral Fellow in Cognitive Neuroscience, Harvard University
Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.
Kreativitas bukan sekadar kemampuan menggambar atau merancang produk. Setiap orang perlu berpikir kreatif dalam kehidupan sehari-hari, entah itu mencari tahu bagaimana cara memasak dengan sisa makanan semalam, atau membuat kostum Halloween dari pakaian yang ada di lemari.
Tugas kreatif bermacam-macam, mulai dari apa yang disebut peneliti kreativitas “k-kecil”—membuat situs web, membuat kerajinan tangan untuk hadiah ulang tahun, atau menceritakan sebuah lelucon lucu—hingga kreativitas “K-Besar”: menulis pidato, menggubah puisi, atau merancang percobaan ilmiah.
Peneliti psikologi dan neurosains sudah mulai mengenali proses berpikir dan wilayah otak yang terlibat dalam kreativitas. Bukti terbaru menunjukkan, kreativitas melibatkan sebuah interaksi rumit antara berpikir spontan dan terkendali.
Dengan kata lain, kemampuan mengulik gagasan secara spontan, sekaligus mengevaluasinya dengan teliti untuk menentukan apakah gagasan itu betul-betul akan berhasil.
Meski demikian, jawaban dari pertanyaan “mengapa beberapa orang bisa lebih kreatif dari yang lain?” tetap sulit dipahami.
Dalam sebuah studi baru, saya bersama kolega meneliti apakah kemampuan berpikir kreatif seseorang bisa dijelaskan, sebagian, oleh koneksi di antara tiga jaringan otak.
Memetakan otak saat berpikir kreatif
Dalam studi ini, kami meminta 163 peserta menyelesaikan tes klasik “berpikir divergen” yang disebut tugas-kegunaan-lain. Kami meminta mereka memikirkan kegunaan baru dan di luar kebiasaan dari beberapa benda. Tepat setelah menyelesaikan tes, mereka menjalani pemindaian fMRI, yang mengukur aliran darah ke bagian-bagian otak.
Tugas itu menilai kemampuan orang untuk menyimpangkan kegunaan umum dari suatu benda. Sebagai contoh, kami menunjukkan peserta beberapa benda seperti pembungkus permen karet atau kaus kaki, kemudian meminta mereka memikirkan cara kreatif dalam menggunakannya.
Beberapa gagasan lebih kreatif daripada yang lain. Seorang peserta mengatakan kaus kaki bisa digunakan utuk menghangatkan kaki (kegunaan umum) sementara peserta lain mengatakan kaus kaki bisa dipakai sebagai sistem penyaring air.
Penting dicatat, kami menemukan bahwa orang-orang yang mahir dalam tes ini cenderung punya lebih banyak hobi dan prestasi kreatif. Ini senada dengan studi terdahulu yang menunjukkan bahwa tugas itu mengukur kemampuan berpikir kreatif secara umum.
Setelah para peserta menyelesaikan tugas berpikir kreatif ini di fMRI, kami menilai konektivitas fungsional di antara semua wilayah otak—berapa banyak aktivitas di satu wilayah berkaitan dengan aktivitas di wilayah lain.
Kami juga membuat peringkat untuk keaslian gagasan mereka: Gagasan yang umum (menggunakan kaus kaki untuk menghangatkan kaki) mendapat nilai lebih rendah, sedangkan gagasan tak umum mendapat nilai lebih tinggi (menggunakan kaus kaki sebagai sistem penyaringan air).
Kemudian kami menghubungkan nilai kreativitas tiap orang dengan semua kemungkinan koneksi otak (sekitar 35.000), dan menghilangkan koneksi yang, menurut analisis kami, tidak berkorelasi dengan nilai kreativitas.
Koneksi yang tersisa merupakan jaringan “kreatif-tinggi”, satu set koneksi yang sangat relevan untuk memunculkan gagasan orisinal.
Dua wilayah menunjukkan lobus otak yang terhubung dalam jaringan kreatif tinggi.Author provided
Setelah mendefinisikan jaringannya, kami ingin melihat apakah seseorang dengan koneksi yang lebih kuat pada jaringan kreatif-tinggi ini akan memiliki nilai yang baik dalam tes. Jadi kami mengukur kekuatan koneksi seseorang pada jaringan ini kemudian menggunakan model prediktif untuk menguji apakah kami dapat memperkirakan nilai kreativitas seseorang.
Model tersebut mengungkapkan korelasi yang signifikan antara nilai prediksi dan nilai kreativitas yang diobservasi. Dengan kata lain, kita bisa mengestimasi seberapa kreatif gagasan seseorang berdasarkan kekuatan koneksi mereka pada jaringan ini.
Kami selanjutnya menguji apakah kita bisa memprediksi kemampuan berpikir kreatif pada tiga sampel baru dari partisipan yang data otaknya tidak digunakan untuk membangun model jaringan. Dari semua sampel, kami menemukan bahwa kami bisa memprediksi—meskipun sederhana—kemampuan kreatif seseorang berdasarkan kekuatan koneksi mereka pada jaringan yang sama ini.
Secara keseluruhan, orang dengan koneksi yang lebih kuat memiliki gagasan yang lebih baik.
Apa yang terjadi pada jaringan ‘kreatif-tinggi’
Kami menemukan bahwa wilayah otak dalam jaringan “kreatif-tinggi” dimiliki oleh tiga sistem otak spesifik: jaringan default, jaringan salience dan jaringan eksekutif.
Jaringan default adalah area otak yang menjadi aktif ketika orang berpikir spontan, seperti pikiran mengembara, bermimpi di siang bolong, dan berkhayal. Jaringan ini mungkin memainkan peranan kunci dalam menghasilkan atau mengulik gagasan—memikirkan beberapa kemungkinan solusi untuk satu masalah.
Jaringan kontrol eksekutif adalah area yang aktif ketika seseorang perlu fokus atau mengontrol proses pikiran mereka. Jaringan ini mungkin berperan kunci dalam mengevaluasi gagasan atau menentukan apakah gagasan yang sudah diulik akan benar-benar berhasil, dan memodifikasinya agar sesuai dengan tujuan kreatif.
Jaringan salience adalah area yang bekerja sebagai mekanisme yang mengalihkan antara jaringan default dan eksekutif. Jaringan ini mungkin memainkan peran kunci dalam penggantian antara menggagas ide dan mengevaluasinya.
Sebuah fitur menarik dari tiga jaringan ini yakni, mereka umumnya tidak diaktivasi di saat bersamaan. Contohnya, ketika jaringan eksekutif diaktivasi, jaringan default biasanya tidak aktif. Hasil penelitian kami menemukan, orang kreatif memiliki kemampuan lebih baik untuk mengaktifkan jaringan-jaringan otak yang biasanya bekerja secara terpisah.
Baca juga: Delapan Ide Kreatif untuk Foto dengan Smartphone
Temuan kami mengindikasikan bahwa otak kreatif dihubungkan dengan cara berbeda, dan bahwa orang kreatif lebih mampu melibatkan sistem otak yang biasanya tidak bekerja bersama. Yang menarik, hasilnya konsisten dengan studi fMRI terbaru mengenai seniman profesional, termasuk musisi jazz yang melakukan improvisasi melodi, penyair yang menulis baris puisi baru, dan seniman visual yang membuat sketsa gagasan untuk sampul buku.
Diperlukan riset di masa mendatang untuk menentukan apakah jaringan-jaringan ini bisa ditempa ataukah relatif tetap. Misalnya, apakah mengikuti kelas menggambar menghasilkan konektivitas yang lebih hebat dalam jaringan otak ini? Mungkinkan mendorong kemampuan berpikir kreatif umum dengan memodifikasi koneksi jaringan?
Roger Beaty, Postdoctoral Fellow in Cognitive Neuroscience, Harvard University
Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.
Mobil Listrik Tesla Melesat ke Antariksa
Miliarder Elon Musk, CEO SpaceX dan
Tesla, mengawali 2018 dengan gebrakan besar. Perusahaan antariksa milik
Elon meluncurkan sebuah mobil listrik roadster produksinya ke
antariksa. Itu adalah langkah terbaru bagi Elon Musk yang ingin
merevolusi perjalanan antariksa dan teknologi.
Tesla
melesat ke antariksa. Perusahaan mobil listrik itu meluncurkan sebuah
mobil berkapasitas dua penumpang dan beratap terbuka (roadster) ke
antariksa sebagai bagian dari muatan roket jumbo SpaceX baru yang
diluncurkan dari Florida belum lama ini.
Roket Falcon Heavy setinggi 23 lantai itu diluncurkan dari landasan di Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida, lokasi peluncuran roket-roket NASA yang membawa misi Apollo ke bulan hamper 50 tahun lalu.
Peluncuran yang sukses itu menandai momen penting bagi Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX.
"Saya masih berupaya memahami semua yang terjadi, karena saya masih tidak percaya,” kata Elon Musk.
Sebanyak 27 mesin roket menciptakan daya dorong 5 juta pon ,yang diperlukan untuk mendorong Falcon Heavy ke antariksa –sebagai kendaraan peluncuran paling kuat di dunia saat ini.
“Hebat sekali. Mungkin itu adalah hal paling menarik yang pernah saya saksikan,” ujar Elon.
Dua roket-pendorong yang menempel di sisi Falcon Heavy kembali lagi ke Bumi dan mendarat secara tegak lurus di dua landasan di Cape Canaveral.
Namun roket-pendorong yang ada di tengah tidak berhasil mendarat dengan sempurna dan jatuh ke Samudera Atlantik; satu-satunya bagian yang tidak berjalan sesuai rencana.
Sementara di antariksa, duduk di kursi pengemudi mobil adalah manekin yang mengenakan baju astronaut. Mobil itu sedang menuju ke orbit yang mengelilingi matahari. Garis edarnya akan membawa mobil itu mendekati Planet Mars.
Roket Falcon Heavy setinggi 23 lantai itu diluncurkan dari landasan di Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida, lokasi peluncuran roket-roket NASA yang membawa misi Apollo ke bulan hamper 50 tahun lalu.
Peluncuran yang sukses itu menandai momen penting bagi Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX.
"Saya masih berupaya memahami semua yang terjadi, karena saya masih tidak percaya,” kata Elon Musk.
Sebanyak 27 mesin roket menciptakan daya dorong 5 juta pon ,yang diperlukan untuk mendorong Falcon Heavy ke antariksa –sebagai kendaraan peluncuran paling kuat di dunia saat ini.
“Hebat sekali. Mungkin itu adalah hal paling menarik yang pernah saya saksikan,” ujar Elon.
Dua roket-pendorong yang menempel di sisi Falcon Heavy kembali lagi ke Bumi dan mendarat secara tegak lurus di dua landasan di Cape Canaveral.
Namun roket-pendorong yang ada di tengah tidak berhasil mendarat dengan sempurna dan jatuh ke Samudera Atlantik; satu-satunya bagian yang tidak berjalan sesuai rencana.
Sementara di antariksa, duduk di kursi pengemudi mobil adalah manekin yang mengenakan baju astronaut. Mobil itu sedang menuju ke orbit yang mengelilingi matahari. Garis edarnya akan membawa mobil itu mendekati Planet Mars.
Ekspedisi Dunia Tersembunyi Antartika Dimulai
Ada sebuah wilayah terpencil di Antartika yang terisolasi dari cahaya
selama ribuan tahun lamanya. Tak ada seorang pun yang tahu apa yang ada
di balik perairan yang beku dan gelap itu.
Hingga akhirnya pada Juli tahun 2017, gunung es raksasa memisahkan diri dari lapisan es yang disebut dengan A-68 atau Larsen C. Area yang awalnya tertutup es itu pun menyingkap dasar laut seluas 5.800 kilometer persegi yang selama 120.000 tahun tak pernah menikmati siraman cahaya matahari.
Dan kabar baiknya, kita tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk mengetahui ekosistem laut di wilayah tersebut. Pekan ini, tim ilmuwan yang dipimpim oleh British Antarctic Survey (BAS) bertolak kesana untuk menelitinya.
Peneliti memang berlomba untuk sesegera mungkin mengeksplorasi dunia tersembunyi itu. Mereka kuatir paparan sinar matahari akan mengubah ekosistem disana dengan cepat.
"Kami benar-benar tidak tahu apa yang ada dibawahnya karena tertutup lapisan es tebal ratusan meter," kata Katrin Linse, ahli Biologi yang terlibat ekspedisi itu seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (13/2/2018).
"Sangat penting kita sampai di sana dengan cepat sebelum lingkungan bawah laut berubah saat sinar matahari memasuki air dan spesies baru mulai berkoloni," katanya.
Linse dan rekan-rekannya akan berangkat menuju Kepulauan Falkland terlebih dahulu dan selanjutnya bergerak ke titik tujuan.
Perlu diketahui, lokasi dunia tersembunyi itu begitu terpencil. Tapi peneliti tetap mengambil risiko untuk mencapainya.
"Larsen C berada jauh di selatan dan ada banyak es di daearah tersebut. Tapi ekspedisi ini adalah hal yang penting bagi sains. Jadi kami akan berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik," ujar David Vaughan, direktur BAS.
Jika tiba tepat waktu, bisa jadi peneliti akan melihat bagaimana sebuah ekosistem terbentuk atau berkembang.
Sebelumnya peneliti sudah memiliki hipotesis mengenai kehidupan di bawah lapisan es ini. Mereka menyebut, kemungkinan ada kemiripan dengan ekosistem lautan dalam. Ada fitoplankton dan zooplankton yang menjadi makanan penting.
Kini tinggal selangkah lagi untuk menguji hipotesis mereka.
Pada pelayaran selama tiga minggu, para peneliti akan mengumpulkan makhluk hidup yang hidup di dasar laut, seperti mikroba dan plankton, sedimen serta sampel air.
Selain itu mereka juga akan mendokumentasikan bukti mamalia baru atau burung yang mungkin telah berimigrasi ke perairan terbuka.
Meski mengaku sama sekali tak ada gambaran dengan apa yang ada di lokasi, para peneliti antusias dengan ekspedisi ini.
"Kami pergi ke daerah di mana kami tidak tahu apa yang akan kami temukan dan ini adalah hal yang menarik. Tapi kami berharap akan menemukan hal yang luar biasa," papar Linse.
Dan yang pasti perjalanan tersebut merupakan kesempatan langka yang harus segera dimanfaatkan, sebab jendela observasional alami semacam itu terkadang membutuhkan waktu 10.000 tahun untuk terbuka.
Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.com dengan judul Ekspedisi Dunia Tersembunyi Antartika Berlanjut, Ada Apa di Sana?
Hingga akhirnya pada Juli tahun 2017, gunung es raksasa memisahkan diri dari lapisan es yang disebut dengan A-68 atau Larsen C. Area yang awalnya tertutup es itu pun menyingkap dasar laut seluas 5.800 kilometer persegi yang selama 120.000 tahun tak pernah menikmati siraman cahaya matahari.
Dan kabar baiknya, kita tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk mengetahui ekosistem laut di wilayah tersebut. Pekan ini, tim ilmuwan yang dipimpim oleh British Antarctic Survey (BAS) bertolak kesana untuk menelitinya.
Peneliti memang berlomba untuk sesegera mungkin mengeksplorasi dunia tersembunyi itu. Mereka kuatir paparan sinar matahari akan mengubah ekosistem disana dengan cepat.
"Kami benar-benar tidak tahu apa yang ada dibawahnya karena tertutup lapisan es tebal ratusan meter," kata Katrin Linse, ahli Biologi yang terlibat ekspedisi itu seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (13/2/2018).
"Sangat penting kita sampai di sana dengan cepat sebelum lingkungan bawah laut berubah saat sinar matahari memasuki air dan spesies baru mulai berkoloni," katanya.
Linse dan rekan-rekannya akan berangkat menuju Kepulauan Falkland terlebih dahulu dan selanjutnya bergerak ke titik tujuan.
Perlu diketahui, lokasi dunia tersembunyi itu begitu terpencil. Tapi peneliti tetap mengambil risiko untuk mencapainya.
"Larsen C berada jauh di selatan dan ada banyak es di daearah tersebut. Tapi ekspedisi ini adalah hal yang penting bagi sains. Jadi kami akan berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik," ujar David Vaughan, direktur BAS.
Jika tiba tepat waktu, bisa jadi peneliti akan melihat bagaimana sebuah ekosistem terbentuk atau berkembang.
Sebelumnya peneliti sudah memiliki hipotesis mengenai kehidupan di bawah lapisan es ini. Mereka menyebut, kemungkinan ada kemiripan dengan ekosistem lautan dalam. Ada fitoplankton dan zooplankton yang menjadi makanan penting.
Kini tinggal selangkah lagi untuk menguji hipotesis mereka.
Pada pelayaran selama tiga minggu, para peneliti akan mengumpulkan makhluk hidup yang hidup di dasar laut, seperti mikroba dan plankton, sedimen serta sampel air.
Selain itu mereka juga akan mendokumentasikan bukti mamalia baru atau burung yang mungkin telah berimigrasi ke perairan terbuka.
Meski mengaku sama sekali tak ada gambaran dengan apa yang ada di lokasi, para peneliti antusias dengan ekspedisi ini.
"Kami pergi ke daerah di mana kami tidak tahu apa yang akan kami temukan dan ini adalah hal yang menarik. Tapi kami berharap akan menemukan hal yang luar biasa," papar Linse.
Dan yang pasti perjalanan tersebut merupakan kesempatan langka yang harus segera dimanfaatkan, sebab jendela observasional alami semacam itu terkadang membutuhkan waktu 10.000 tahun untuk terbuka.
Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.com dengan judul Ekspedisi Dunia Tersembunyi Antartika Berlanjut, Ada Apa di Sana?
Kandungan Antibiotik Baru Ditemukan dalam Tanah
Tanah identik dengan kotor dan kuman. Tapi harapan baru bagi dunia medis justru muncul dibalik tanah.
Peneliti New York's Rockefeller University baru-baru ini menemukan senyawa alami yang disebut dengan malacidin. Senyawa tersebut mampu memusnahkan beberapa penyakit bakteri yang telah menjadi resisten terhadap kebanyakan antiobiotik yang ada.
Salah satunya adalah penyakit Methicilin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA), jenis penyakit yang ditimbulkan oleh tipe bakteri Staphylococcus yang kebal terhadap antibiotik.
Bakteri ini menginfeksi orang atau anak-anak yang memilki daya tahan tubuh lemah. Bersifat mematikan dan bisa mengakibatkan pada kematian penderitanya.
Tak heran penyakit MRSA merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global. Tercatatan setiap tahun mereka membunuh sekitar 700.000 orang.
Saat peneliti menemukann antibiotik baru dalam tanah, itu seperti harapan baru untuk memerangi penyakit resisten.
Tanah penuh dengan jutaan mikroorganisme berbeda. Namun mungkin yang tak banyak diketahui adalah mikroorganisme tersebut bisa menghasilkan banyak senyawa terapeutik, termasuk antibiotik baru.
Kesimpulan itu didapat setelah tim peneliti New York's Rockefeller Univeristy melakukan analisis lebih dari 1000 sampel tanah yang diambil dari seluruh Amerika Serikat.
Mereka menggunakan teknik pengurutan gen dalam penelitian tersebut. Ketika mereka menemukan malacidin di banyak sampel, mereka memiliki firasat bahwa ini adalah temuan yang penting.
Peneliti kemudian menguji senyawa tersebut pada tikus yang sudah terpapar penyakit MRSA. Hasilnya infeksi pada luka kulit menghilang.
Kini peneliti sekarang berusaha meningkatkan efektivitasnya dengan harapan segera bisa dikembangkan menjadi pengobatan nyata bagi orang-orang.
"Tapi tentunya butuh waktu yang tidak sebentar hingga antibiotik ini bisa segera digunakan," ungkap Dr Sean Brady, peneliti yang terlibat dalam studi ini.
Namun keberhasilan itu rupanya menurut Prof Colin Garner dari Antibiotic Research Inggris tidak menyelesaikan kebutuhan pengobatan yang mendesak.
"Temuan itu adalah kabar yang baik tapi kita memerlukan segera alternatif antibiotik untuk pengobatan," terangnya.
Sebab selain MRSA, masih ada penyakit lain yang disebabkan oleh kelompok bakter gram negatif terus mengintai kesehatan gloal.
"Bakteri gram negatif sulit diobati dan ada kekhawatiran jika resistensinya semakin meningkat. Bakteri ini menyebabkan pneumonia, infeksi darah dan saluran kemih karena infeksi luka. Kita membutuhkan antibiotik untuk merawat bakteri kelompok ini," kata Garner.
Penelitian ini sudah dipublikasikan di Nature Microbiology.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Peneliti New York's Rockefeller University baru-baru ini menemukan senyawa alami yang disebut dengan malacidin. Senyawa tersebut mampu memusnahkan beberapa penyakit bakteri yang telah menjadi resisten terhadap kebanyakan antiobiotik yang ada.
Salah satunya adalah penyakit Methicilin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA), jenis penyakit yang ditimbulkan oleh tipe bakteri Staphylococcus yang kebal terhadap antibiotik.
Bakteri ini menginfeksi orang atau anak-anak yang memilki daya tahan tubuh lemah. Bersifat mematikan dan bisa mengakibatkan pada kematian penderitanya.
Tak heran penyakit MRSA merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global. Tercatatan setiap tahun mereka membunuh sekitar 700.000 orang.
Saat peneliti menemukann antibiotik baru dalam tanah, itu seperti harapan baru untuk memerangi penyakit resisten.
Tanah penuh dengan jutaan mikroorganisme berbeda. Namun mungkin yang tak banyak diketahui adalah mikroorganisme tersebut bisa menghasilkan banyak senyawa terapeutik, termasuk antibiotik baru.
Kesimpulan itu didapat setelah tim peneliti New York's Rockefeller Univeristy melakukan analisis lebih dari 1000 sampel tanah yang diambil dari seluruh Amerika Serikat.
Mereka menggunakan teknik pengurutan gen dalam penelitian tersebut. Ketika mereka menemukan malacidin di banyak sampel, mereka memiliki firasat bahwa ini adalah temuan yang penting.
Peneliti kemudian menguji senyawa tersebut pada tikus yang sudah terpapar penyakit MRSA. Hasilnya infeksi pada luka kulit menghilang.
Kini peneliti sekarang berusaha meningkatkan efektivitasnya dengan harapan segera bisa dikembangkan menjadi pengobatan nyata bagi orang-orang.
"Tapi tentunya butuh waktu yang tidak sebentar hingga antibiotik ini bisa segera digunakan," ungkap Dr Sean Brady, peneliti yang terlibat dalam studi ini.
Namun keberhasilan itu rupanya menurut Prof Colin Garner dari Antibiotic Research Inggris tidak menyelesaikan kebutuhan pengobatan yang mendesak.
"Temuan itu adalah kabar yang baik tapi kita memerlukan segera alternatif antibiotik untuk pengobatan," terangnya.
Sebab selain MRSA, masih ada penyakit lain yang disebabkan oleh kelompok bakter gram negatif terus mengintai kesehatan gloal.
"Bakteri gram negatif sulit diobati dan ada kekhawatiran jika resistensinya semakin meningkat. Bakteri ini menyebabkan pneumonia, infeksi darah dan saluran kemih karena infeksi luka. Kita membutuhkan antibiotik untuk merawat bakteri kelompok ini," kata Garner.
Penelitian ini sudah dipublikasikan di Nature Microbiology.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Kecoak Menginspirasi Penciptaan Robot
Saat berhadapan dengan rintangan seperti tembok vertikal, umumnya
makhluk hidup akan menghindari. Namun tidak dengan kecoa, serangga
tersebut justru menabrakkan kepalanya.
Kecoa punya kepala "serupa bumper mobil", demikian dinyatakan Kaushik Jayaram dari Departemen Integrasi Biologi di Universitas California di Berkeley dalam publikasinya di The Royal Society Iterface pada Selasa (13/2/2018).
Dengan mempelajari kemampuan itu, peneliti berharap bisa menciptakan sebuah robot yang meniru keunggulan kecoa ini. Sebelumnya, telah ada pula robot yang meiru kemahiran kecoa melewati lorong sempit.
Dalam publikasinya, Jayaram dan rekannya menguraikan bahwa kecoa lihai dalam membaca kondisi medan yang akan dilalui. Indera dan otaknya akan saling bersinergi untuk menentukan langkah supaya tidak terjebak pada rintangan.
Degan menabrakkan kepalanya ke dinding rintangan, kecoa memang akan sedikit terpental. Namun demikian, kecoa mampu mengatur tubuhnya sehingga bisa melompat kembali ke permukaan dinding vertikal dan merayap lebih baik.
Apa yang diketahui dari kecoa tersebut, turut membawa peneliti kepada hipotesis bahwa beberapa hewan memanfaatkan tubuhnya tidak hanya sebagai tameng pelindung. Tubuh hewan dipakai untuk meredam momentum tumbukan lalu dialihkan sebagai energi.
Jayaram dan timnya mengamati 18 kecoa jantan yang ditempatkan pada permukaan datar yang dirancang berujung pada tembok vertikal. Kecoa dipantau lewat kamera berkecepatan 500 frame per detik. Disediakan pula perangkat lunak untuk menangkap setiap perubahan gerak kecoa, baik horizontal maupun vertikal.
“Dalam eksperimen ini, kami melihat bahwa kecoa merayap lebih cepat 20 persen diibandingkan harus menapakkan kaki terlebih dahulu sebelum akhirnya memanjat dinding,”ujar Jayaram seperti yang dilansir dari Live Science.
“Dalam habitat aslinya, kenaikan 20 persen ini bisa membantu saat harus menghindari mangsa. Antara hidup dan mati,” imbuhnya.
Akan seperti apa robot yang dirancang meniru kecoa ini? Mari kita nantikan.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Kecoa punya kepala "serupa bumper mobil", demikian dinyatakan Kaushik Jayaram dari Departemen Integrasi Biologi di Universitas California di Berkeley dalam publikasinya di The Royal Society Iterface pada Selasa (13/2/2018).
Dengan mempelajari kemampuan itu, peneliti berharap bisa menciptakan sebuah robot yang meniru keunggulan kecoa ini. Sebelumnya, telah ada pula robot yang meiru kemahiran kecoa melewati lorong sempit.
Dalam publikasinya, Jayaram dan rekannya menguraikan bahwa kecoa lihai dalam membaca kondisi medan yang akan dilalui. Indera dan otaknya akan saling bersinergi untuk menentukan langkah supaya tidak terjebak pada rintangan.
Degan menabrakkan kepalanya ke dinding rintangan, kecoa memang akan sedikit terpental. Namun demikian, kecoa mampu mengatur tubuhnya sehingga bisa melompat kembali ke permukaan dinding vertikal dan merayap lebih baik.
Apa yang diketahui dari kecoa tersebut, turut membawa peneliti kepada hipotesis bahwa beberapa hewan memanfaatkan tubuhnya tidak hanya sebagai tameng pelindung. Tubuh hewan dipakai untuk meredam momentum tumbukan lalu dialihkan sebagai energi.
Jayaram dan timnya mengamati 18 kecoa jantan yang ditempatkan pada permukaan datar yang dirancang berujung pada tembok vertikal. Kecoa dipantau lewat kamera berkecepatan 500 frame per detik. Disediakan pula perangkat lunak untuk menangkap setiap perubahan gerak kecoa, baik horizontal maupun vertikal.
“Dalam eksperimen ini, kami melihat bahwa kecoa merayap lebih cepat 20 persen diibandingkan harus menapakkan kaki terlebih dahulu sebelum akhirnya memanjat dinding,”ujar Jayaram seperti yang dilansir dari Live Science.
“Dalam habitat aslinya, kenaikan 20 persen ini bisa membantu saat harus menghindari mangsa. Antara hidup dan mati,” imbuhnya.
Akan seperti apa robot yang dirancang meniru kecoa ini? Mari kita nantikan.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.
Swedia Uji Coba Bus Tanpa Pengemudi
Di pinggir kota Stockholms, bus mini yang menyetir diri sendiri ini
dapat menjadi angkutan umum di masa depan. Bukannya mempunyai sopir, bus
tersebut mempunyai yang disebut ‘penjaga,’ yang mengawasi kendaraan itu
dan menutup pintu setelah penumpang menaikinya.
Peter Hafmar, direktur perusahaan Nobina Technology menjelaskan ”Kendaraan ini tidak mempunyai setir yang biasanya dimiliki bus, tidak ada dashboard, jadi bus ini mengemudikan dirinya. Dan tidak ada sopir, jadi si penjaga dapat turun tangan untuk menghentikan atau menghidupkan kendaraan.”
Bus tersebut menggunakan sensor yang memungkinkan kendaraan yang menyetir sendiri itu untuk melihat sekelilingnya, supaya kendaraan itu dapat dengan selamat menempuh jalan dengan benar dan tanpa benturan.
Sekiranya ada orang yang melompat di depan kendaraan, bus tersebut melihat orang itu dan bereaksi terhadapnya, dengan melambat atau berhenti sama sekali.
Selama enam bulan, bus yang dipra-program itu akan mengangkut penumpang bolak-balik di jalan sepanjang satu setengah kilometer yang terletak di sebuah daerah perusahaan-perusahaan informasi dan komunikasi.
"Kendaraan ini akan membantu kita naik kendaraan bersama-sama dengan cara yang lebih baik, dari pintu ke pintu, dari perhentian bus ke kantor kita atau dari perhentian bus ke rumah kita,” kata Peter Hafmar.
Dalam uji coba itu, bus akan berjalan dengan kecepatan yang tidak lebih dari 20 kilometer per jam.
Para penumpang menyukainya. Secara di luar dugaan mereka, bus itu berjalan dengan mulus tanpa guncangan.
“Komputer cenderung membuat lebih sedikit kesalahan daripada manusia, jadi kalau kita menurunkan lebih banyak robot ke dalam lalu lintas dan lebih sedikit manusia dalam lalu-lintas, saya kira jumlah kecelakaan maut dan kecelakaan lalu lintas pada umumnya akan berkurang,” kata Mattias Lind.
Artikel ini pernah tayang di voaindonesia.com. Baca artikel sumber.
Peter Hafmar, direktur perusahaan Nobina Technology menjelaskan ”Kendaraan ini tidak mempunyai setir yang biasanya dimiliki bus, tidak ada dashboard, jadi bus ini mengemudikan dirinya. Dan tidak ada sopir, jadi si penjaga dapat turun tangan untuk menghentikan atau menghidupkan kendaraan.”
Bus tersebut menggunakan sensor yang memungkinkan kendaraan yang menyetir sendiri itu untuk melihat sekelilingnya, supaya kendaraan itu dapat dengan selamat menempuh jalan dengan benar dan tanpa benturan.
Sekiranya ada orang yang melompat di depan kendaraan, bus tersebut melihat orang itu dan bereaksi terhadapnya, dengan melambat atau berhenti sama sekali.
Selama enam bulan, bus yang dipra-program itu akan mengangkut penumpang bolak-balik di jalan sepanjang satu setengah kilometer yang terletak di sebuah daerah perusahaan-perusahaan informasi dan komunikasi.
"Kendaraan ini akan membantu kita naik kendaraan bersama-sama dengan cara yang lebih baik, dari pintu ke pintu, dari perhentian bus ke kantor kita atau dari perhentian bus ke rumah kita,” kata Peter Hafmar.
Dalam uji coba itu, bus akan berjalan dengan kecepatan yang tidak lebih dari 20 kilometer per jam.
Para penumpang menyukainya. Secara di luar dugaan mereka, bus itu berjalan dengan mulus tanpa guncangan.
“Komputer cenderung membuat lebih sedikit kesalahan daripada manusia, jadi kalau kita menurunkan lebih banyak robot ke dalam lalu lintas dan lebih sedikit manusia dalam lalu-lintas, saya kira jumlah kecelakaan maut dan kecelakaan lalu lintas pada umumnya akan berkurang,” kata Mattias Lind.
Artikel ini pernah tayang di voaindonesia.com. Baca artikel sumber.
Peneliti Jepang Ciptakan Pisang Yang Kulitnya Bisa Dimakan
Pisang mongee (diucapkan 'mon-gay' dan berarti 'menakjubkan')
memiliki kulit yang bisa dimakan yang diklaim rasanya seperti sayuran
dan memiliki tekstur seperti selada.
Pisang ini telah menjadi
usaha penuh cinta bagi Setsuzo Tanaka berusia 68 tahun dari Prefektur
Okayama yang telah menghabiskan waktunya selama 40 tahun terakhir untuk
menyempurnakan teknik menumbuhkan pisang Mongee ini.
Bibit-bibit
pisang dibekukan, kemudian dicairkan dan ditanam kembali, dimana
perusahaannya, D & T Farm, menyebut metode ini sebagai "freeze-thaw
awakening".
Menurut D & T Farm, proses tersebut membuat tanaman tumbuh dengan
cepat, memotong proses budidaya tanaman pisang yang biasanya memerluka
waktu dua tahun menjadi hanya enam bulan saja.
Pisang matang dengan cepat, menyebabkan kulitnya tipis, lentur dan dapat dimakan.
Akar di masa lalu
Pisang Mongee dikembangkan dari
varietas pisang Gros Michel, yang kemungkinan merupakan jenis pisang
yang biasa dikonsumsi mereka di tahun 1950-an dan sebelumnya.
Ini
adalah varietas pisang utama dalam yang beredar secara global sejak
awal 1900-an sampai tahun 1950an, ketika perkebunan di Amerika Tengah
musnah oleh penyakit layu fusarium yang menjadi lebih dikenal sebagai
penyakit Panama.
Jenis yang lebih baru dari penyakit yang
bersumber dari jamur yang ditularkan melalui tanah, Panama TR4, sekarang
mempengaruhi tanaman pisang Cavendish Australia.
Keinginan
Setsuzo Tanaka untuk menumbuhkan pisang Gros Michel tropis di iklim
dingin Jepang didorong oleh kenangannya sendiri saat kecil memakan
pisang tersebut ketika pisang di saat buah yang satu ini masih
digolongkan sebagai makanan mewah.
"Ia mengembangkan pisang Mongee sebagai hobi.
"Alasan
mengapa kulit pisang bisa dimakan adalah varietas Gros Michel yang
relatif lebih tipis kulitnya, dibandingkan dengan pisang yang diimpor ke
Jepang."
Aman dan manis
Perusahaan ini menentang
modifikasi genetik dan tanaman pisang Mongee ini tidak diobati dengan
bahan kimia apapun, yang memungkinkan kulitnya dimakan dengan aman.
"Kami
tidak menggunakan pupuk kimia dan tidak ada musuh alami pisang di
Jepang, jadi ini adalah penanaman non-pestisida," kata Tanaka.
Buah itu sendiri sangat manis, dengan kandungan gula yang baru-baru ini diukur menunjukan 25,8 gram per 100 gram.
Sebagai
perbandingan, pisang Cavendish, yang merupakan varietas komersial utama
saat ini, memiliki sekitar 18 gram gula per 100 gram.
Menurut Pak Tanaka, memakan buah dan kulitnya memberi nutrisi tambahan.
"Kulit
pisang bisa mengandung vitamin B6 dan magnesium dan kaya akan triptofan
dan ada juga potasium, polifenol, tapi ada banyak vitamin larut air,
zat besi khususnya," katanya.
Pisang
Mongee sekarang dijual di sebuah toserba Jepang seharga $ 7 (sekitar
Rp74 ribu) per buah, harganya mahal karena ditanam dari biji yang hanya
mampu menghasilkan hanya sekitar 10 buah pisang yang tersedia setiap
minggunya.
Perusahaan ini berencana memperluas penjualan mereka,
sebagai langkah awalnya mereka menyasar pasar di seluruh Jepang, di mana
99 persen pisang saat ini masih diimpor.
Tanaka mengatakan bahwa ekspor global juga masuk dalam rencana bisnis perusahaannya.
Artikel ini pernah tayang di australiaplus.com. Baca artikel sumber.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Cara Mengatasi Windows 10 Gagal Booting
Salah satu masalah yang sering menjadi kegelisahan pengguna komputer khususnya pengguna windows 10 adalah terjadinya error windows 10 yaitu...
-
Di pinggir kota Stockholms, bus mini yang menyetir diri sendiri ini dapat menjadi angkutan umum di masa depan. Bukannya mempunyai sopir, bu...
-
Kemampuan untuk berkomunikasi dengan hewan peliharaan tampaknya tidak akan lagi sekadar impian atau plot cerita fiksi. Sebab pada 2017, se...
-
ayangkan jika kita bisa berjalan-jalan di dalam replika virtual sel tubuh kita sendiri. Hal seperti ini sudah menjadi kenyataan, berkat tek...