Adsense

Friday, February 23, 2018

Kayu Super Lebih Kuat Dari Baja Ini Mampu Menahan Peluru

Pernahkah Anda membayangkan ada kayu yang sekuat baja? Rasanya hal itu sedikit mustahil, bukan?
Namun para peneliti di Amerika Serikat mengubah hal mustahil tersebut menjadi nyata. Mereka telah mengembangkan cara sederhana untuk membuat kayu sekuat baja atau bahkan perpaduan titanium.
Bahkan, dalam uji coba, kayu super tersebut bisa menghentikan peluru yang ditembakkan ke arahnya. Hal ini membuka peluang untuk penerapan kayu pada bangunan, mobil, atau bahkan pesawat.
"Cara baru ini membuat kayu 12 kali lebih kuat dan 10 kali lebih keras dari aslinya," ungkap Liangbing Hu, profesor asosiasi di University of Maryland, AS dikutip dari Xinhua Net, Kamis (08/02/2018).
"Ini bisa menjadi pesaing atau bahkan perpaduan titanium, ini sangat kuat dan tahan lama. Jika dibandingkan dengan serat karbon, harga kayu ini lebih murah," imbuh pria yang jadi pimpinan penelitian ini.
Dalam laporan di jurnal Nature, disebutkan bahwa proses pembuatan kayu agar sekuat baja ini dimulai dengan melepas lignin atau bagian dari kayu yang membuatnya kaku dan berwarna coklat. Dilansir dari Scientific American, Rabu (07/02/2018), pelepasan lignin ini dilakukan dengan cara mendidihkan kayu dalam larutan natrium hidroksida (NaOH) dan natrium sulfit (Na2SO3).
Selanjutnya, ditekan/dikompres pada suhu 100 derajat celcius selama sekitar satu hari. Proses ini akan membuat kayu 5 kali lebih tipis dari ukuran asli.
Dengan cara ini cacat pada kayu seperti lubang akan hancur, kata para peneliti. Proses perlakuan ini juga sedikit lebih lama dibanding dengan melapisi kayu dengan cat.
"(Dengan cara ini) serabut kayu ditekan sedemikian erat sehingga bisa membentuk ikatan hidrogen yang kuat, seperti kerumunan orang yang tidak dapat bergerak dan berpegangan tangan," kata para peneliti.
Profesor Teng Li dari University of Maryland yang juga terlibat dalam penelitian ini menyebut bahwa ia mengukur sifat mekanik kayu yang padat. Hasilnya, kayu tersebut dianggap sekuat baja tapi dengan bobot 6 kali lebih ringan.
"Dibutuhkan 10 kali energi lebih banyak untuk mematahkannya jika dibanding kayu alami. Benda ini bahkan bisa ditekuk pada awal proses ini dilakukan," ujar Li.
Tim juga menguji materi tersebut dengan menembakkan peluru ke arah benda itu.
Jika hal tersebut dilakukan pada kayu alami, tentu akan membuatnya berlubang. Sebaliknya, benda ini justru menghentikan proyektil peluru yang ditembakkan kearahnya.
"Laporan ini memberikan gambaran yang sangat menjanjikan untuk merancang bahan struktural yang berkekuatan tinggi namun ringan, dengan potensi yang luar biasa untuk diaplikasikan pada tujuan yang membutuhkan kekuatan besar dan ketahan tinggi," kata Huajian Gao, profesor di Brown University, AS yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
"Sangat menarik untuk dicatat bahwa cara ini dapat digunakan pada semua jenis kayu dan bisa diterapkan dengan mudah," sambungnya.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.

Mengapa Beberapa Orang Bisa Lebih kreatif dari yang Lain?

Kreativitas sering kali diartikan sebagai kemampuan untuk memikirkan gagasan baru dan berguna. Layaknya kecerdasan, kreativitas dianggap sebagai sifat yang dimiliki semua orang, tidak terbatas pada Picasso dan Steve Jobs saja.
Kreativitas bukan sekadar kemampuan menggambar atau merancang produk. Setiap orang perlu berpikir kreatif dalam kehidupan sehari-hari, entah itu mencari tahu bagaimana cara memasak dengan sisa makanan semalam, atau membuat kostum Halloween dari pakaian yang ada di lemari.
Tugas kreatif bermacam-macam, mulai dari apa yang disebut peneliti kreativitas “k-kecil”—membuat situs web, membuat kerajinan tangan untuk hadiah ulang tahun, atau menceritakan sebuah lelucon lucu—hingga kreativitas “K-Besar”: menulis pidato, menggubah puisi, atau merancang percobaan ilmiah.
Peneliti psikologi dan neurosains sudah mulai mengenali proses berpikir dan wilayah otak yang terlibat dalam kreativitas. Bukti terbaru menunjukkan, kreativitas melibatkan sebuah interaksi rumit antara berpikir spontan dan terkendali.
Dengan kata lain, kemampuan mengulik gagasan secara spontan, sekaligus mengevaluasinya dengan teliti untuk menentukan apakah gagasan itu betul-betul akan berhasil.
Meski demikian, jawaban dari pertanyaan “mengapa beberapa orang bisa lebih kreatif dari yang lain?” tetap sulit dipahami.
Dalam sebuah studi baru, saya bersama kolega meneliti apakah kemampuan berpikir kreatif seseorang bisa dijelaskan, sebagian, oleh koneksi di antara tiga jaringan otak.
Memetakan otak saat berpikir kreatif
Dalam studi ini, kami meminta 163 peserta menyelesaikan tes klasik “berpikir divergen” yang disebut tugas-kegunaan-lain. Kami meminta mereka memikirkan kegunaan baru dan di luar kebiasaan dari beberapa benda. Tepat setelah menyelesaikan tes, mereka menjalani pemindaian fMRI, yang mengukur aliran darah ke bagian-bagian otak.
Tugas itu menilai kemampuan orang untuk menyimpangkan kegunaan umum dari suatu benda. Sebagai contoh, kami menunjukkan peserta beberapa benda seperti pembungkus permen karet atau kaus kaki, kemudian meminta mereka memikirkan cara kreatif dalam menggunakannya.
Beberapa gagasan lebih kreatif daripada yang lain. Seorang peserta mengatakan kaus kaki bisa digunakan utuk menghangatkan kaki (kegunaan umum) sementara peserta lain mengatakan kaus kaki bisa dipakai sebagai sistem penyaring air.
Penting dicatat, kami menemukan bahwa orang-orang yang mahir dalam tes ini cenderung punya lebih banyak hobi dan prestasi kreatif. Ini senada dengan studi terdahulu yang menunjukkan bahwa tugas itu mengukur kemampuan berpikir kreatif secara umum.
Setelah para peserta menyelesaikan tugas berpikir kreatif ini di fMRI, kami menilai konektivitas fungsional di antara semua wilayah otak—berapa banyak aktivitas di satu wilayah berkaitan dengan aktivitas di wilayah lain.
Kami juga membuat peringkat untuk keaslian gagasan mereka: Gagasan yang umum (menggunakan kaus kaki untuk menghangatkan kaki) mendapat nilai lebih rendah, sedangkan gagasan tak umum mendapat nilai lebih tinggi (menggunakan kaus kaki sebagai sistem penyaringan air).
Kemudian kami menghubungkan nilai kreativitas tiap orang dengan semua kemungkinan koneksi otak (sekitar 35.000), dan menghilangkan koneksi yang, menurut analisis kami, tidak berkorelasi dengan nilai kreativitas.
Koneksi yang tersisa merupakan jaringan “kreatif-tinggi”, satu set koneksi yang sangat relevan untuk memunculkan gagasan orisinal.
Dua wilayah menunjukkan lobus otak yang terhubung dalam jaringan kreatif tinggi.Author provided
Setelah mendefinisikan jaringannya, kami ingin melihat apakah seseorang dengan koneksi yang lebih kuat pada jaringan kreatif-tinggi ini akan memiliki nilai yang baik dalam tes. Jadi kami mengukur kekuatan koneksi seseorang pada jaringan ini kemudian menggunakan model prediktif untuk menguji apakah kami dapat memperkirakan nilai kreativitas seseorang.
Model tersebut mengungkapkan korelasi yang signifikan antara nilai prediksi dan nilai kreativitas yang diobservasi. Dengan kata lain, kita bisa mengestimasi seberapa kreatif gagasan seseorang berdasarkan kekuatan koneksi mereka pada jaringan ini.
Kami selanjutnya menguji apakah kita bisa memprediksi kemampuan berpikir kreatif pada tiga sampel baru dari partisipan yang data otaknya tidak digunakan untuk membangun model jaringan. Dari semua sampel, kami menemukan bahwa kami bisa memprediksi—meskipun sederhana—kemampuan kreatif seseorang berdasarkan kekuatan koneksi mereka pada jaringan yang sama ini.
Secara keseluruhan, orang dengan koneksi yang lebih kuat memiliki gagasan yang lebih baik.
Apa yang terjadi pada jaringan ‘kreatif-tinggi’
Kami menemukan bahwa wilayah otak dalam jaringan “kreatif-tinggi” dimiliki oleh tiga sistem otak spesifik: jaringan default, jaringan salience dan jaringan eksekutif.
Jaringan default adalah area otak yang menjadi aktif ketika orang berpikir spontan, seperti pikiran mengembara, bermimpi di siang bolong, dan berkhayal. Jaringan ini mungkin memainkan peranan kunci dalam menghasilkan atau mengulik gagasan—memikirkan beberapa kemungkinan solusi untuk satu masalah.
Jaringan kontrol eksekutif adalah area yang aktif ketika seseorang perlu fokus atau mengontrol proses pikiran mereka. Jaringan ini mungkin berperan kunci dalam mengevaluasi gagasan atau menentukan apakah gagasan yang sudah diulik akan benar-benar berhasil, dan memodifikasinya agar sesuai dengan tujuan kreatif.
Jaringan salience adalah area yang bekerja sebagai mekanisme yang mengalihkan antara jaringan default dan eksekutif. Jaringan ini mungkin memainkan peran kunci dalam penggantian antara menggagas ide dan mengevaluasinya.
Sebuah fitur menarik dari tiga jaringan ini yakni, mereka umumnya tidak diaktivasi di saat bersamaan. Contohnya, ketika jaringan eksekutif diaktivasi, jaringan default biasanya tidak aktif. Hasil penelitian kami menemukan, orang kreatif memiliki kemampuan lebih baik untuk mengaktifkan jaringan-jaringan otak yang biasanya bekerja secara terpisah.
Baca juga: Delapan Ide Kreatif untuk Foto dengan Smartphone
Temuan kami mengindikasikan bahwa otak kreatif dihubungkan dengan cara berbeda, dan bahwa orang kreatif lebih mampu melibatkan sistem otak yang biasanya tidak bekerja bersama. Yang menarik, hasilnya konsisten dengan studi fMRI terbaru mengenai seniman profesional, termasuk musisi jazz yang melakukan improvisasi melodi, penyair yang menulis baris puisi baru, dan seniman visual yang membuat sketsa gagasan untuk sampul buku.
Diperlukan riset di masa mendatang untuk menentukan apakah jaringan-jaringan ini bisa ditempa ataukah relatif tetap. Misalnya, apakah mengikuti kelas menggambar menghasilkan konektivitas yang lebih hebat dalam jaringan otak ini? Mungkinkan mendorong kemampuan berpikir kreatif umum dengan memodifikasi koneksi jaringan?
The ConversationUntuk saat ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut belum terjawab. Sebagai peneliti, kita hanya perlu melibatkan jaringan kreatif kita sendiri untuk mencari tahu bagaimana menjawabnya.
Roger Beaty, Postdoctoral Fellow in Cognitive Neuroscience, Harvard University
Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.

Mobil Listrik Tesla Melesat ke Antariksa

Miliarder Elon Musk, CEO SpaceX dan Tesla, mengawali 2018 dengan gebrakan besar. Perusahaan antariksa milik Elon meluncurkan sebuah mobil listrik roadster produksinya ke antariksa. Itu adalah langkah terbaru bagi Elon Musk yang ingin merevolusi perjalanan antariksa dan teknologi.
Tesla melesat ke antariksa. Perusahaan mobil listrik itu meluncurkan sebuah mobil berkapasitas dua penumpang dan beratap terbuka (roadster) ke antariksa sebagai bagian dari muatan roket jumbo SpaceX baru yang diluncurkan dari Florida belum lama ini.
Roket Falcon Heavy setinggi 23 lantai itu diluncurkan dari landasan di Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida, lokasi peluncuran roket-roket NASA yang membawa misi Apollo ke bulan hamper 50 tahun lalu.
Peluncuran yang sukses itu menandai momen penting bagi Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX.
"Saya masih berupaya memahami semua yang terjadi, karena saya masih tidak percaya,” kata Elon Musk.
Sebanyak 27 mesin roket menciptakan daya dorong 5 juta pon ,yang diperlukan untuk mendorong Falcon Heavy ke antariksa –sebagai kendaraan peluncuran paling kuat di dunia saat ini.
“Hebat sekali. Mungkin itu adalah hal paling menarik yang pernah saya saksikan,” ujar Elon.
Dua roket-pendorong yang menempel di sisi Falcon Heavy kembali lagi ke Bumi dan mendarat secara tegak lurus di dua landasan di Cape Canaveral.
Namun roket-pendorong yang ada di tengah tidak berhasil mendarat dengan sempurna dan jatuh ke Samudera Atlantik; satu-satunya bagian yang tidak berjalan sesuai rencana.
Sementara di antariksa, duduk di kursi pengemudi mobil adalah manekin yang mengenakan baju astronaut. Mobil itu sedang menuju ke orbit yang mengelilingi matahari. Garis edarnya akan membawa mobil itu mendekati Planet Mars.
Artikel ini telah tayang di Voaindonesia.com. Baca artikel sumber.

Ekspedisi Dunia Tersembunyi Antartika Dimulai

Ada sebuah wilayah terpencil di Antartika yang terisolasi dari cahaya selama ribuan tahun lamanya. Tak ada seorang pun yang tahu apa yang ada di balik perairan yang beku dan gelap itu.
Hingga akhirnya pada Juli tahun 2017, gunung es raksasa memisahkan diri dari lapisan es yang disebut dengan A-68 atau Larsen C. Area yang awalnya tertutup es itu pun menyingkap dasar laut seluas 5.800 kilometer persegi yang selama 120.000 tahun tak pernah menikmati siraman cahaya matahari.
Dan kabar baiknya, kita tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk mengetahui ekosistem laut di wilayah tersebut. Pekan ini, tim ilmuwan yang dipimpim oleh British Antarctic Survey (BAS) bertolak kesana untuk menelitinya.
Peneliti memang berlomba untuk sesegera mungkin mengeksplorasi dunia tersembunyi itu. Mereka kuatir paparan sinar matahari akan mengubah ekosistem disana dengan cepat.
"Kami benar-benar tidak tahu apa yang ada dibawahnya karena tertutup lapisan es tebal ratusan meter," kata Katrin Linse, ahli Biologi yang terlibat ekspedisi itu seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (13/2/2018).
"Sangat penting kita sampai di sana dengan cepat sebelum lingkungan bawah laut berubah saat sinar matahari memasuki air dan spesies baru mulai berkoloni," katanya.
Linse dan rekan-rekannya akan berangkat menuju Kepulauan Falkland terlebih dahulu dan selanjutnya bergerak ke titik tujuan.
Perlu diketahui, lokasi dunia tersembunyi itu begitu terpencil. Tapi peneliti tetap mengambil risiko untuk mencapainya.
"Larsen C berada jauh di selatan dan ada banyak es di daearah tersebut. Tapi ekspedisi ini adalah hal yang penting bagi sains. Jadi kami akan berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik," ujar David Vaughan, direktur BAS.
Jika tiba tepat waktu, bisa jadi peneliti akan melihat bagaimana sebuah ekosistem terbentuk atau berkembang.
Sebelumnya peneliti sudah memiliki hipotesis mengenai kehidupan di bawah lapisan es ini. Mereka menyebut, kemungkinan ada kemiripan dengan ekosistem lautan dalam. Ada fitoplankton dan zooplankton yang menjadi makanan penting.
Kini tinggal selangkah lagi untuk menguji hipotesis mereka.
Pada pelayaran selama tiga minggu, para peneliti akan mengumpulkan makhluk hidup yang hidup di dasar laut, seperti mikroba dan plankton, sedimen serta sampel air.
Selain itu mereka juga akan mendokumentasikan bukti mamalia baru atau burung yang mungkin telah berimigrasi ke perairan terbuka.
Meski mengaku sama sekali tak ada gambaran dengan apa yang ada di lokasi, para peneliti antusias dengan ekspedisi ini.
"Kami pergi ke daerah di mana kami tidak tahu apa yang akan kami temukan dan ini adalah hal yang menarik. Tapi kami berharap akan menemukan hal yang luar biasa," papar Linse.
Dan yang pasti perjalanan tersebut merupakan kesempatan langka yang harus segera dimanfaatkan, sebab jendela observasional alami semacam itu terkadang membutuhkan waktu 10.000 tahun untuk terbuka.
Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.com dengan judul Ekspedisi Dunia Tersembunyi Antartika Berlanjut, Ada Apa di Sana?

Kandungan Antibiotik Baru Ditemukan dalam Tanah

Tanah identik dengan kotor dan kuman. Tapi harapan baru bagi dunia medis justru muncul dibalik tanah.
Peneliti New York's Rockefeller University baru-baru ini menemukan senyawa alami yang disebut dengan malacidin. Senyawa tersebut mampu memusnahkan beberapa penyakit bakteri yang telah menjadi resisten terhadap kebanyakan antiobiotik yang ada.
Salah satunya adalah penyakit Methicilin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA), jenis penyakit yang ditimbulkan oleh tipe bakteri Staphylococcus yang kebal terhadap antibiotik.
Bakteri ini menginfeksi orang atau anak-anak yang memilki daya tahan tubuh lemah. Bersifat mematikan dan bisa mengakibatkan pada kematian penderitanya.
Tak heran penyakit MRSA merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global. Tercatatan setiap tahun mereka membunuh sekitar 700.000 orang.
Saat peneliti menemukann antibiotik baru dalam tanah, itu seperti harapan baru untuk memerangi penyakit resisten.
Tanah penuh dengan jutaan mikroorganisme berbeda. Namun mungkin yang tak banyak diketahui adalah mikroorganisme tersebut bisa menghasilkan banyak senyawa terapeutik, termasuk antibiotik baru.
Kesimpulan itu didapat setelah tim peneliti New York's Rockefeller Univeristy melakukan analisis lebih dari 1000 sampel tanah yang diambil dari seluruh Amerika Serikat.
Mereka menggunakan teknik pengurutan gen dalam penelitian tersebut. Ketika mereka menemukan malacidin di banyak sampel, mereka memiliki firasat bahwa ini adalah temuan yang penting.
Peneliti kemudian menguji senyawa tersebut pada tikus yang sudah terpapar penyakit MRSA. Hasilnya infeksi pada luka kulit menghilang.
Kini peneliti sekarang berusaha meningkatkan efektivitasnya dengan harapan segera bisa dikembangkan menjadi pengobatan nyata bagi orang-orang.
"Tapi tentunya butuh waktu yang tidak sebentar hingga antibiotik ini bisa segera digunakan," ungkap Dr Sean Brady, peneliti yang terlibat dalam studi ini.
Namun keberhasilan itu rupanya menurut Prof Colin Garner dari Antibiotic Research Inggris tidak menyelesaikan kebutuhan pengobatan yang mendesak.
"Temuan itu adalah kabar yang baik tapi kita memerlukan segera alternatif antibiotik untuk pengobatan," terangnya.
Sebab selain MRSA, masih ada penyakit lain yang disebabkan oleh kelompok bakter gram negatif terus mengintai kesehatan gloal.
"Bakteri gram negatif sulit diobati dan ada kekhawatiran jika resistensinya semakin meningkat. Bakteri ini menyebabkan pneumonia, infeksi darah dan saluran kemih karena infeksi luka. Kita membutuhkan antibiotik untuk merawat bakteri kelompok ini," kata Garner.
Penelitian ini sudah dipublikasikan di Nature Microbiology.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.

Kecoak Menginspirasi Penciptaan Robot

Saat berhadapan dengan rintangan seperti tembok vertikal, umumnya makhluk hidup akan menghindari. Namun tidak dengan kecoa, serangga tersebut justru menabrakkan kepalanya.
Kecoa punya kepala "serupa bumper mobil", demikian dinyatakan Kaushik Jayaram dari Departemen Integrasi Biologi di Universitas California di Berkeley dalam publikasinya di The Royal Society Iterface pada Selasa (13/2/2018).
Dengan mempelajari kemampuan itu, peneliti berharap bisa menciptakan sebuah robot yang meniru keunggulan kecoa ini. Sebelumnya, telah ada pula robot yang meiru kemahiran kecoa melewati lorong sempit.
Dalam publikasinya, Jayaram dan rekannya menguraikan bahwa kecoa lihai dalam membaca kondisi medan yang akan dilalui. Indera dan otaknya akan saling bersinergi untuk menentukan langkah supaya tidak terjebak pada rintangan.
Degan menabrakkan kepalanya ke dinding rintangan, kecoa memang akan sedikit terpental. Namun demikian, kecoa mampu mengatur tubuhnya sehingga bisa melompat kembali ke permukaan dinding vertikal dan merayap lebih baik.
Apa yang diketahui dari kecoa tersebut, turut membawa peneliti kepada hipotesis bahwa beberapa hewan memanfaatkan tubuhnya tidak hanya sebagai tameng pelindung. Tubuh hewan dipakai untuk meredam momentum tumbukan lalu dialihkan sebagai energi.
Jayaram dan timnya mengamati 18 kecoa jantan yang ditempatkan pada permukaan datar yang dirancang berujung pada tembok vertikal. Kecoa dipantau lewat kamera berkecepatan 500 frame per detik. Disediakan pula perangkat lunak untuk menangkap setiap perubahan gerak kecoa, baik horizontal maupun vertikal.
“Dalam eksperimen ini, kami melihat bahwa kecoa merayap lebih cepat 20 persen diibandingkan harus menapakkan kaki terlebih dahulu sebelum akhirnya memanjat dinding,”ujar Jayaram seperti yang dilansir dari Live Science.
“Dalam habitat aslinya, kenaikan 20 persen ini bisa membantu saat harus menghindari mangsa. Antara hidup dan mati,” imbuhnya.
Akan seperti apa robot yang dirancang meniru kecoa ini? Mari kita nantikan.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.

Swedia Uji Coba Bus Tanpa Pengemudi

Di pinggir kota Stockholms, bus mini yang menyetir diri sendiri ini dapat menjadi angkutan umum di masa depan. Bukannya mempunyai sopir, bus tersebut mempunyai yang disebut ‘penjaga,’ yang mengawasi kendaraan itu dan menutup pintu setelah penumpang menaikinya.
Peter Hafmar, direktur perusahaan Nobina Technology menjelaskan ”Kendaraan ini tidak mempunyai setir yang biasanya dimiliki bus, tidak ada dashboard, jadi bus ini mengemudikan dirinya. Dan tidak ada sopir, jadi si penjaga dapat turun tangan untuk menghentikan atau menghidupkan kendaraan.”
Bus tersebut menggunakan sensor yang memungkinkan kendaraan yang menyetir sendiri itu untuk melihat sekelilingnya, supaya kendaraan itu dapat dengan selamat menempuh jalan dengan benar dan tanpa benturan.
Sekiranya ada orang yang melompat di depan kendaraan, bus tersebut melihat orang itu dan bereaksi terhadapnya, dengan melambat atau berhenti sama sekali.
Selama enam bulan, bus yang dipra-program itu akan mengangkut penumpang bolak-balik di jalan sepanjang satu setengah kilometer yang terletak di sebuah daerah perusahaan-perusahaan informasi dan komunikasi.
"Kendaraan ini akan membantu kita naik kendaraan bersama-sama dengan cara yang lebih baik, dari pintu ke pintu, dari perhentian bus ke kantor kita atau dari perhentian bus ke rumah kita,” kata Peter Hafmar.
Dalam uji coba itu, bus akan berjalan dengan kecepatan yang tidak lebih dari 20 kilometer per jam.
Para penumpang menyukainya. Secara di luar dugaan mereka, bus itu berjalan dengan mulus tanpa guncangan.
“Komputer cenderung membuat lebih sedikit kesalahan daripada manusia, jadi kalau kita menurunkan lebih banyak robot ke dalam lalu lintas dan lebih sedikit manusia dalam lalu-lintas, saya kira jumlah kecelakaan maut dan kecelakaan lalu lintas pada umumnya akan berkurang,” kata Mattias Lind.
Artikel ini pernah tayang di voaindonesia.com. Baca artikel sumber.

Cara Mengatasi Windows 10 Gagal Booting

Salah satu masalah yang sering menjadi kegelisahan pengguna komputer khususnya pengguna windows 10 adalah terjadinya error windows 10 yaitu...